BAB
I
PENDAHULUAN
Latar
Belakang
Dalam dunia pendidikan belajar merupakan sesuatu yang wajib
dilaksanakan, karena belajar merupakan kegiatan rutin yang dilakukan oleh siswa
pada umumnya, termasuk juga mahasiswa. Belajar merupakan suatu tuntutan harus
di lakukan oleh semua orang pada umumnya dan mahasiswa pada khususnya.
Pendidikan adalah hal yang sangt penting yang mendukung berkembagnya sumber
daya manusia. Pendidikan di Indonesia bertujuan untuk merndidik manusia agar
memiliki kepribadian yang baik, bermoral, dan menguasai bidang ilmu yang di
tekuni selama mengenyam pendidikan, serta bisa menjadi sumber daya manusia yang
berkualitas. Terkadang harus diakui bahwa masalah penganguran menjadi perhatian
kita setelah lulus karena tujuan manusia untuk mengenyam pendidikan rata-rata
ingin mendapatkan pekerjaan yang di inginkan. Akan menjadi kebanggan tersendiri
bila mampu bersaing untuk memproleh pekerjaan yang menjadi keinginan seseorang.
Makalah ini dimangsudkan untuk memenuhi tugas mata kuliah Antropologi
Budaya sebagai tugas presentasi kelompok. Antropologi Budaya dimaksudkan agar
semua Audien mengerti akan permasalahan Pewarisan Kebudayaan.
A.PEWARISAN
KEBUDAYAAN
Indonesia memiliki
kekayaan budaya yang berlimpah. Rumah tradisional, pakaian tradisional, lagu
daerah, bahasa daerah, dan lain sebagainya. Kekayaan kebudayaan yang beraneka
macam tersebut seyogyanya dapat lestari jika masyarakat Indonesia dapat
menjaganya dengan baik. Salah satu di antaranya dengan cara pewarisan
kebudayaan kepada generasi penerus bangsa. Lantas, bagaimana proses pewarisan
budaya itu?
Suatu hal yang berharga
dan berarti akan diturunkan kepada generasi selanjutnya, itulah yang dimaksud
dengan pewarisan. Segala sesuatu yang ada di muka bumi Indonesia ini kelak akan
diberikan kepada generasi penerus bangsa, termasuk kebudayaan. Namun demikian, pewarisan
tidak dapat berlanjut jika hal yang diwariskan telah tidak ada, seperti suatu kebudayaan.
Demikian pula sebaliknya, jika kebudayaan masih ada, namun tidak dilakukan
pewarisan, maka generasi selanjutnya tidak dapat mengetahui kebudayaan nenek moyangnya.
Pewarisan kebudayaan dapat dilihat pada beberapa kondisi, yakni pada masyarakat
tradisional dan masyarakat modern.
a.
Pewarisan
Kebudayaan pada Masyarakat Tradisional
Pewarisan
kebudayaan dilakukan oleh semua masyarakat, tanpa mengenal tradisional ataupun
modern. Pewarisan kebudayaan pada masyarakat tradisional dapat dilakukan dalam
berbagai cara, yaitu pengajaran kebudayaan dalam keluarga, pengajaran
kebudayaan di keraton, pengajaran kebudayaan dari kepala suku kepada rakyat, pengajaran
kebudayaan melalui padepokan, pengajaran kebudayaan melalui pelatihan, dan
pengajaran kebudayaan melalui perkumpulan.
1.
Pengajaran
kebudayaan dalam keluarga
Pendidikan
kebudayaan dapat dilakukan secara sengaja maupun tidak sengaja di dalam sebuah
keluarga. Seorang ibu dapat melakukan pewarisan kebudayaan kepada anaknya
mengenai pengobatan tradisional, atau seorang kakak mengajarkan kepada adiknya
mengenai sopan santun atau adat istiadat kepada adiknya.
2.
Pengajaran
kebudayaan di kraton
Pewarisan
kebudayaan juga dapat dilakukan melalui keraton yang memberi pengajaran kebudayaan
kepada abdi dalem atau kerabat keraton. Pewarisan kebudayaan tersebut misalnya,
pengobatan tradisional atau perawatan tubuh secara tradisional. Resep-resep rahasia
tradisional diajarkan hanya untuk kerabat keraton, namun dapat pula tersebar
keluar keraton.
3.
Pengajaran
kebudayaan dari kepala suku kepada rakyat
Kepala
suku adalah pemimpin sukunya. Oleh karena itu, perintah yang diberikan kepala
suku akan ditaati. Melalui kepala suku, kebudayaan diajarkan kepada anggota
suku bangsa. Kemudian disebarkan kepada anggota keluarga di suku tersebut.
Demikian seterusnya, sehingga kebudayaan dapat terjaga kelestariannya.
4.
Pengajaran
kebudayaan melalui padepokan
Padepokan
adalah salah satu tempat yang digunakan untuk mengajarkan tari-tarian
tradisional. Pada masa dulu, tari-tarian diajarkan di kraton. Namun, di luar
kraton pun akhirnya muncul tari-tarian, terutama dari daerah pesisir. Ada
kemungkinan pula tari-tarian tercipta dari daerah pesisir. Melalui padepokan
tersebut, kebudayaan dapat dilestarikan dengan melakukan pewarisan kepada
generasi penerus.
5.
Pengajaran
pelatihan
Pewarisan
kebudayaan yang dilakukan melalui pelatihan misalnya pengajaran bela diri tradisional.
Bela diri tradisional adalah salah satu kekayaan kebudayaan bangsa. Melalui padepokan,
kekayaan tradisional dapat tetap dilestarikan dan diwariskan kepada generasi-generasi
berikutnya.
6.
Pengajaran
kebudayaan melalui perkumpulan
Kebudayaan
dapat diwariskan melalui kegiatan yang terdapat di dalam suatu perkumpulan.
Kegiatan tersebut misalnya cara Pewarisan Budaya dan Integrasi Nasional 51 menangkap
ikan dengan kearifan budaya masyarakat setempat. Perkumpulan nelayan saling
berbagi pengetahuan dan kemudian diwariskan kepada generasi penerusnya.
Kelompok lain misalnya kelompok petani sawah, ladang, atau kebun yang saling
berbagi pengetahuan cara bekerja di sawah, ladang, atau kebun. Saling berbagi
pengetahuan cara membajak sawah, cara menugal, atau cara memetik daun teh.
Hal-hal yang demikian diajarkan kepada anak cucunya, maka pewarisan kebudayaan
telah berlangsung.
B.Pewarisan
Kebudayaan Pada Masyarakat Modern
Terlebih pada masyarakat modern, pewarisan
kebudayaan perlu dilakukan. Jikalau kita mau mengamati keadaaan masyarakat kota
saat ini, nilai dan norma sebagai bagian dari kebudayaan mulai tidak dipandang
lagi. Apakah hal ini sebagai bukti bahwa pewarisan kebudayaan pada masyarakat kota
atau modern mengalami kegagalan? Oleh karena itu, pewarisan kebudayaan pada
masyarakat modern dapat dilakukan melalui beberapa cara yaitu pengajaran
kebudayaan dalam keluarga, pengajaran kebudayaan melalui institusi pendidikan,
pengajaran kebudayaan melalui museum, pengajaran kebudayaan melalui media
televisi, pengajaran kebudayaan melalui internet, dan pengajaran kebudayaan
melalui pagelaran.
1.
Pengajaran
kebudayaan dalam keluarga
Mirip
dengan pengajaran kebudayaan dalam keluarga pada masyarakat tradisional, pada
masyarakat modern juga dapat dilakukan pewarisan kebudayaan, misalnya orang tua
mengajarkan pengetahuan mengenai tarian daerah asalnya dengan membelikan VCD
(Video Compact Disc) berisi tarian daerah. Dengan demikian telah dilakukan
pewarisan kebudayaan.
2.
Pengajaran
kebudayaan melalui institusi pendidikan
Institusi
pendidikan sejak taman bermain telah mengajarkan lagu daerah hingga pakaian
daerah yang kemudian dikenakan pada saat memperingati hari Kartini. Pada
tingkat lanjut, diajarkan lebih mendalam mengenai kebudayaan daerah di seluruh
Indonesia. Dengan demikian pewarisan kebudayaan telah berlangsung melalui
institusi tersebut.
3.
Pengajaran
kebudayaan melalui museum
Pada
masa kini telah banyak museum didirikan untuk dapat melestarikan kebudayaan bangsa.
Museum terlengkap hingga ada rumah adat, terdapat di Taman Mini Indonesia Indah
Jakarta. Hal yang demikian adalah salah satu aktivitas melestarikan kebudayaan
bangsa untuk dapat diketahui generasi penerus. Hal ini adalah aktivitas
pewarisan kebudayaan pula.
4.
Pengajaran
kebudayaan melalui media televisi
Televisi
adalah salah satu sarana yang dapat menyebarkan informasi kebudayaan dengan
cepat. Program-program kebudayaan telah banyak dibuat pada stasiun televisi.
Hal ini secara tidak langsung adalah aktivitas pewarisan kebudayaan.
5.
Pengajaran
kebudayaan melalui internet
Internet
adalah sarana pemberi informasi yang sangat luar biasa. Dengan subjek yang
sama, dapat ditemukan banyak informasi yang saling melengkapi. Melalui internet
tersebut informasi kebudayaan dapat diperoleh dengan mudah. Penyediaan
informasi mengenai kebudayaan tersebut adalah salah satu aktivitas pewarisan kebudayaan
karena informasi dapat diketahui oleh generasi berikutnya.
6.
Pengajaran
kebudayaan melalui pagelaran
Pagelaran
tari, pagelaran peragaan busana daerah, dan pagelaran yang lainnya adalah suatu
bentuk pewarisan kebudayaan juga. Melalui aktivitas tersebut, generasi penerus
dapat memahami kekayaan kebudayaan yang ada di Indonesia.
C.
Pergeseran Budaya
Dalam perspektif fungsionalisme,
perubahan budaya masyarakat pedesaan ini terjadi diawali dengan adanya tekanan
dari pemerintah (misalnya peraturan, sanksi, iming-iming, dll) lalu ada penolakan
dari sistem lama, integrasi antara keduanya dan akhirnya dicapai titik keseimbangan
baru. Karena pada awalnya terjadi kesenjangan budaya, maka pemerintah
membutuhkan agen-agen penyalur perubahan budaya ini.
Pada masa orde baru, elite
pemerintahan birokrasi desa yang dipantau ketat berperan aktif dalam
menyalurkan perubahan kebudayaan ini. Ada kalanya perubahan kebudayaan ini
mendapat penolakan dari beberapa pihak. Namun sikap represif dan antipati
segera akan muncul dan menyebabkan kelompok penolak perubahan budaya ini
seolah-olah tersingkir dari lingkungan sosialnya. Seringkali terjadi penamaan
status-status kepada kelompok yang menolak perubahan budaya ini. Misalnya saja
orang tersebut dikatakan “kuno dan tentinggal”, “ndeso”, “tidak taat aturan”
dan sebagainya. Penyikapan sosial inilah yang secara perlahan merubah penolakan
(resistan) kepada penerimaan. Perlahan-lahan kebudayaan baru diterapkan dan
kebudayaan lama ditinggalkan. Kalaupun kebudayaan lama masih dilakukan itupun
sangat jarang.
Misalnya saja program
listrik masuk desa dengan sangat cepat akan diikuti invasi teknologi, orang
mulai beli radio, televisi, lemari es, mesin cuci dan sebagainya. Akses
informasi yang dibawa oleh masing-masing alat komunikasi ini kemudian membawa
nilai-nilai baru bagi warga desa.
Inovasi teknologi
pertanian dari yang semula menggunakan peralatan sederhana menjadi mesin
modern, dari yang semula membajak dengan binatang diganti membajak dengan
mesin, semula menumbuk dengan alu berganti menumbuk otomatis dengan mesin,
semula mengangkut hasil pertanian dengan pedati berganti dengan mobil.
Kenyataan ini tidak hanya merubah paradigma masyarakat yang semula motivasi
bertani adalah bertahan hidup, menjadi orientasi profit finansial. Disamping
itu juga, percepatan panen padi membawa budaya instan dan sikap tergesa-gesa.
Program Keluarga
Berencana (KB) merubah kebiasaan masyarakat dari “keluarga besar”
menjadi—meminjam istilah pemerintah—“keluarga kecil sejahtera”. Pergeseran ini
tidak hanya merubah pola hubungan keluarga dari “keterkaitan
genetik/persaudaraan” menjadi “keterkaitan reproduksi dan finansial”, namun
juga mengeliminasi adanya organisasi kultural masyarakat dalam sebuah “keluarga
besar”.
Teknologi permainan
merubah jenis permainan kelompok menjadi permainan modern teknologis yang
cenderung individual. Misalnya permainan tradisional gobak sodor, gundu, patek
lele, jumpritan tidak lagi populer dan diganti dengan permainan baru seperti
Play Station (PS) dan game. Permainan tradisonal yang pada dasarnya
menumbuhkembangkan psikomotorik-afektif diganti dengan permainan modern yang
mengarah pada kognitif saja. Ini berpengaruh terhadap karakter anak setelah ia
berkembang dan hidup dalam lingkungan sosial yang lebih luas.
Sehingga, kemudian jika
ada orang atau sekelompok orang yang memiliki atau memelihara pola-pola budaya
lama, dengan segera ia akan dicap buruk dan disingkirkan dari kelompok. Boleh
jadi orang seperti ini akan dianggap menghalangi kemajuan, anti-progresifitas.
Perlakuan ini membuat orang kemudian malu untuk menggunakan budaya lama dalam
kehidupan sehari-hari, dan karena tidak pernah digunakan lagi budaya itu
berangsur-angsur hilang.
a)
Dampak
Positif Pegeseran Nilai masyarakat Tradisional ke Moderen
Seperti
yang telah di kemukakan diatas bahwa pergeseran nilai budya menimbulkan dampak
positif ataupun negative, Dampak positifnya yaitu:
1.
Arus
komunikasi Lancar
Perubahan
masyarakat dari tradisional ke modern berdampak pada sarana komunikasi, pada
masyarakat tradisional mungkin masih menggunakan pentungan atau kulkul, burung
merpati, surat sebagai alat berkomunikasi satu dengan yang lainya, dngan
terjadinya pegeseran nilai-nilai maka sarana kmunikasi semakin cepat. Contoh
ada handphone, telegram, dan sejenisnya sehingga komunikasi meenjadi cepat dan
mudah dilaksanakan.
2.
Berkembangnya
ilmu pengetauan dan tehnologi
Pergerseran
masyarakat tradisional menuju masyarakat modern membawa dampak yang sangat
signifikan yaitu masyarakat modern yang yang dulunya tradisional dapat
beraktivitas jauh lebih mudah. Contoh : pada masyarakat yang dulu menggumakan tulisan tangan dalam
mengirim surat sekarang sudah bisa lewat komputer atau pun laptop.
3.
Tingkat
hidup yang lebih baik
Peergeseran
nilai erat hubunganya dengan pengaruh globalisasi, globalisasi menyebakan
pergeseran nilai budaya. Berhubungan pula dengan industry-industri maju, dengan
dibukanya industri yang memproduksi alat-alat komunikasi dan trasportasi yang
canggih merupakan salah satu untuk mengurangi pengangguran dan meningkatkan
taraf hidup masyarakat.
4.
Perubahan
sistem pengetahuan
Masyarakat
bila sudah modern akan memilki kesadaran betapa pentingnya pendidikan. Dengan
bekal pengetahuan masyarakat sudah siap untuk menghadapi pergeseran nilai yang
mungkin terjadi di era global. Dengan pengetahuan pula kita dapat
memproduksi barang dan jasa dengan
mudah.
5.
Perubahan
Pandangan Hidup
Pandangan
hidup merupakan seseorang atau sekelompok orang yang bermangsud menanggapi dan
memeranggakan segala masalah yang tejadi. Pandangan hidup sebgai komponen
budaya cenderung berubah sejalan dengan perubahan konsep hidup masyarakat.
Perubahan pandangan hidup masyarakat Indonesia terlihat pada perubahan
sikapnya, prilaku dan karyanya berkat
pembangunan berkembanglah pandangan tentang pentingnya keseimabangan kehidupan
yang material dan spiritual, pembaguanan yang berwawasan lingkungan.
b)
Dampak
Negatif Pergeseran nilai masyarakat
Tradisional ke Moderen
Pergeseran
nilai-nilai masyarakat selain berdampak positif dapat juga dapat menimbulkan dampak negative,
seperti :
1.
Timbulnya
sikap individualistis
Masyarakat
merasa sangat dimudahkan dengan tehnologi maju
membuat mereka tidak lagi membutuhkan orang lain dalam aktivitasnya.
Kadang- kadang mereka lupa akan dirinya sebagai mahluk social. Mereka cenderung
untuk hidup sendiri-sendiri tanpa memperhatikan orang lain, rasa getong royong,
ramah tamah dan sopan santun mulai memudar. Nilai-nilai yang telah dijunjung
sesuai budaya leluhur mereka akan mulai di tinggalkan. Akibat dari memudarnya
nilai-nilai budaya local akan menimbulkan sikap individualistis
2.
Kesenjangan
social
Pergeseran
nilai masyarakat tradisional ke modern tidak lepas dari pengaruh modernisasi
dan pengaruh globalisasi, bila ada beberapa individu yang dapat mengikuti
pengaruh tersebut akan terjadi kesenjangan social. Kesenjangan social akan
menyebabkan jarak anatara si kaya dan si miskin dan hal ini bisa merusak
nilai-nilai kebinekaan dan ketunggalikan bangsa Indonesia. Hal ii juga akan
memicu prasangka social, persaingan dalam kehidupan cenderung akan mebuat orang
tersebut frustasi, maka orang akan timbulah tindak criminal seperti perampokan
hanya untuk alasan pemenuhan kebutuhan.
3.
Masuknya
Nilai-nilai Dari Budaya Lain
Masyarakat
modern umumnya telah mengetahui tehnologi, seperti internet, handpone media
televise dan tehnologi yang lainya yang ditiru habis-habisan. Internet
contohnya bila digunakan untuk memperdalam materi pejaran itu baik. Tetapi
sebaliknya dan ini sebuah kenyataan bahwa internet terkadang digunakan untuk
mengakses video porno atau yang betentangan dengan norma-norma masyarakat.
Selain itu apresiasi terhadap nilai budaya localpun pudar serta nilai keagamaan
akan mengalami kemunduran. Disini bisa dilihat pergeseran nilainya yaitu
Beralih ke budaya barat dan budaya lainya.
4.
Penyebaran
nilai-nilai politik barat yang kurang
Penyebaran
nilai-nilai politik barat secara langsung atau tidak langsung dalam
bentuk-bentuk unjuk rasa, demonstrasi yang semakin berani dan terkadang
mengabaikan kepentingan umum. Masyarakat cenderung menghadapi dengan anarkisme.
5.
Kenakalan
Remaja
Imbas
dari pergeseran nilai-nilai masyarakat moderent adalah kenakalan remaja.
Pengaruh internet ataupun HP yang ditiru habis-habisan menimbulkan kenakalan
remaja, contoh bila remaja membawa Hp camera bisa menyimpan sesuatu yang porno
didalam hpnya sehingga suatu saat pasti remaja mencoba adegan itu, padahal
adegan itu hanyalah untuk orang yang sudah mempunyai ikatan perkawinan. Maka
telah terjadi pegeseran nilai masyarakat tradisional ke modern. Masyarakat
Moderen cenderung melupakan budaya aslinya.
6.
Adanya
Penyakit Masyarakat
Penyakit
masyarakat atau Patologi Sosial bisa muncul di karenakan pergeseran nilai
masyarakat, seperti yang telah dijelaskan bahwa pergeseran nilai berdampak pada
kesenjangan social. Maka si miskin terpaksa mencuri untuk pemenuhan kebutuhan.
Selain itu banyak orang memilih untuk menjadi Psk itupun kebanyakan karena
alasan kebutuhan, walau ada karena alasan lain. Maka pergeseran nilai dan norma
kesusilaan bergeser secara cepat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar