Ads Here

Kamis, 19 Oktober 2017

Makalah Pewaris Kebudayaan

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
            Dalam dunia pendidikan belajar merupakan sesuatu yang wajib dilaksanakan, karena belajar merupakan kegiatan rutin yang dilakukan oleh siswa pada umumnya, termasuk juga mahasiswa. Belajar merupakan suatu tuntutan harus di lakukan oleh semua orang pada umumnya dan mahasiswa pada khususnya. Pendidikan adalah hal yang sangt penting yang mendukung berkembagnya sumber daya manusia. Pendidikan di Indonesia bertujuan untuk merndidik manusia agar memiliki kepribadian yang baik, bermoral, dan menguasai bidang ilmu yang di tekuni selama mengenyam pendidikan, serta bisa menjadi sumber daya manusia yang berkualitas. Terkadang harus diakui bahwa masalah penganguran menjadi perhatian kita setelah lulus karena tujuan manusia untuk mengenyam pendidikan rata-rata ingin mendapatkan pekerjaan yang di inginkan. Akan menjadi kebanggan tersendiri bila mampu bersaing untuk memproleh pekerjaan yang menjadi keinginan seseorang.
            Makalah ini dimangsudkan untuk memenuhi tugas mata kuliah Antropologi Budaya sebagai tugas presentasi kelompok. Antropologi Budaya dimaksudkan agar semua Audien mengerti akan permasalahan Pewarisan Kebudayaan.






















A.PEWARISAN KEBUDAYAAN
Indonesia memiliki kekayaan budaya yang berlimpah. Rumah tradisional, pakaian tradisional, lagu daerah, bahasa daerah, dan lain sebagainya. Kekayaan kebudayaan yang beraneka macam tersebut seyogyanya dapat lestari jika masyarakat Indonesia dapat menjaganya dengan baik. Salah satu di antaranya dengan cara pewarisan kebudayaan kepada generasi penerus bangsa. Lantas, bagaimana proses pewarisan budaya itu?
Suatu hal yang berharga dan berarti akan diturunkan kepada generasi selanjutnya, itulah yang dimaksud dengan pewarisan. Segala sesuatu yang ada di muka bumi Indonesia ini kelak akan diberikan kepada generasi penerus bangsa, termasuk kebudayaan. Namun demikian, pewarisan tidak dapat berlanjut jika hal yang diwariskan telah tidak ada, seperti suatu kebudayaan. Demikian pula sebaliknya, jika kebudayaan masih ada, namun tidak dilakukan pewarisan, maka generasi selanjutnya tidak dapat mengetahui kebudayaan nenek moyangnya. Pewarisan kebudayaan dapat dilihat pada beberapa kondisi, yakni pada masyarakat tradisional dan masyarakat modern.

a.      Pewarisan Kebudayaan pada Masyarakat Tradisional
Pewarisan kebudayaan dilakukan oleh semua masyarakat, tanpa mengenal tradisional ataupun modern. Pewarisan kebudayaan pada masyarakat tradisional dapat dilakukan dalam berbagai cara, yaitu pengajaran kebudayaan dalam keluarga, pengajaran kebudayaan di keraton, pengajaran kebudayaan dari kepala suku kepada rakyat, pengajaran kebudayaan melalui padepokan, pengajaran kebudayaan melalui pelatihan, dan pengajaran kebudayaan melalui perkumpulan.

1.      Pengajaran kebudayaan dalam keluarga
Pendidikan kebudayaan dapat dilakukan secara sengaja maupun tidak sengaja di dalam sebuah keluarga. Seorang ibu dapat melakukan pewarisan kebudayaan kepada anaknya mengenai pengobatan tradisional, atau seorang kakak mengajarkan kepada adiknya mengenai sopan santun atau adat istiadat kepada adiknya.
2.      Pengajaran kebudayaan di kraton
Pewarisan kebudayaan juga dapat dilakukan melalui keraton yang memberi pengajaran kebudayaan kepada abdi dalem atau kerabat keraton. Pewarisan kebudayaan tersebut misalnya, pengobatan tradisional atau perawatan tubuh secara tradisional. Resep-resep rahasia tradisional diajarkan hanya untuk kerabat keraton, namun dapat pula tersebar keluar keraton.
3.      Pengajaran kebudayaan dari kepala suku kepada rakyat
Kepala suku adalah pemimpin sukunya. Oleh karena itu, perintah yang diberikan kepala suku akan ditaati. Melalui kepala suku, kebudayaan diajarkan kepada anggota suku bangsa. Kemudian disebarkan kepada anggota keluarga di suku tersebut. Demikian seterusnya, sehingga kebudayaan dapat terjaga kelestariannya.

4.      Pengajaran kebudayaan melalui padepokan
Padepokan adalah salah satu tempat yang digunakan untuk mengajarkan tari-tarian tradisional. Pada masa dulu, tari-tarian diajarkan di kraton. Namun, di luar kraton pun akhirnya muncul tari-tarian, terutama dari daerah pesisir. Ada kemungkinan pula tari-tarian tercipta dari daerah pesisir. Melalui padepokan tersebut, kebudayaan dapat dilestarikan dengan melakukan pewarisan kepada generasi penerus.
5.      Pengajaran pelatihan
Pewarisan kebudayaan yang dilakukan melalui pelatihan misalnya pengajaran bela diri tradisional. Bela diri tradisional adalah salah satu kekayaan kebudayaan bangsa. Melalui padepokan, kekayaan tradisional dapat tetap dilestarikan dan diwariskan kepada generasi-generasi berikutnya.
6.      Pengajaran kebudayaan melalui perkumpulan
Kebudayaan dapat diwariskan melalui kegiatan yang terdapat di dalam suatu perkumpulan. Kegiatan tersebut misalnya cara Pewarisan Budaya dan Integrasi Nasional 51 menangkap ikan dengan kearifan budaya masyarakat setempat. Perkumpulan nelayan saling berbagi pengetahuan dan kemudian diwariskan kepada generasi penerusnya. Kelompok lain misalnya kelompok petani sawah, ladang, atau kebun yang saling berbagi pengetahuan cara bekerja di sawah, ladang, atau kebun. Saling berbagi pengetahuan cara membajak sawah, cara menugal, atau cara memetik daun teh. Hal-hal yang demikian diajarkan kepada anak cucunya, maka pewarisan kebudayaan telah berlangsung.

B.Pewarisan Kebudayaan Pada Masyarakat Modern
Terlebih pada masyarakat modern, pewarisan kebudayaan perlu dilakukan. Jikalau kita mau mengamati keadaaan masyarakat kota saat ini, nilai dan norma sebagai bagian dari kebudayaan mulai tidak dipandang lagi. Apakah hal ini sebagai bukti bahwa pewarisan kebudayaan pada masyarakat kota atau modern mengalami kegagalan? Oleh karena itu, pewarisan kebudayaan pada masyarakat modern dapat dilakukan melalui beberapa cara yaitu pengajaran kebudayaan dalam keluarga, pengajaran kebudayaan melalui institusi pendidikan, pengajaran kebudayaan melalui museum, pengajaran kebudayaan melalui media televisi, pengajaran kebudayaan melalui internet, dan pengajaran kebudayaan melalui pagelaran.
1.      Pengajaran kebudayaan dalam keluarga
Mirip dengan pengajaran kebudayaan dalam keluarga pada masyarakat tradisional, pada masyarakat modern juga dapat dilakukan pewarisan kebudayaan, misalnya orang tua mengajarkan pengetahuan mengenai tarian daerah asalnya dengan membelikan VCD (Video Compact Disc) berisi tarian daerah. Dengan demikian telah dilakukan pewarisan kebudayaan.
2.      Pengajaran kebudayaan melalui institusi pendidikan
Institusi pendidikan sejak taman bermain telah mengajarkan lagu daerah hingga pakaian daerah yang kemudian dikenakan pada saat memperingati hari Kartini. Pada tingkat lanjut, diajarkan lebih mendalam mengenai kebudayaan daerah di seluruh Indonesia. Dengan demikian pewarisan kebudayaan telah berlangsung melalui institusi tersebut.
3.      Pengajaran kebudayaan melalui museum
Pada masa kini telah banyak museum didirikan untuk dapat melestarikan kebudayaan bangsa. Museum terlengkap hingga ada rumah adat, terdapat di Taman Mini Indonesia Indah Jakarta. Hal yang demikian adalah salah satu aktivitas melestarikan kebudayaan bangsa untuk dapat diketahui generasi penerus. Hal ini adalah aktivitas pewarisan kebudayaan pula.
4.      Pengajaran kebudayaan melalui media televisi
Televisi adalah salah satu sarana yang dapat menyebarkan informasi kebudayaan dengan cepat. Program-program kebudayaan telah banyak dibuat pada stasiun televisi. Hal ini secara tidak langsung adalah aktivitas pewarisan kebudayaan.

5.      Pengajaran kebudayaan melalui internet
Internet adalah sarana pemberi informasi yang sangat luar biasa. Dengan subjek yang sama, dapat ditemukan banyak informasi yang saling melengkapi. Melalui internet tersebut informasi kebudayaan dapat diperoleh dengan mudah. Penyediaan informasi mengenai kebudayaan tersebut adalah salah satu aktivitas pewarisan kebudayaan karena informasi dapat diketahui oleh generasi berikutnya.
6.      Pengajaran kebudayaan melalui pagelaran
Pagelaran tari, pagelaran peragaan busana daerah, dan pagelaran yang lainnya adalah suatu bentuk pewarisan kebudayaan juga. Melalui aktivitas tersebut, generasi penerus dapat memahami kekayaan kebudayaan yang ada di Indonesia.

C. Pergeseran Budaya
Dalam perspektif fungsionalisme, perubahan budaya masyarakat pedesaan ini terjadi diawali dengan adanya tekanan dari pemerintah (misalnya peraturan, sanksi, iming-iming, dll) lalu ada penolakan dari sistem lama, integrasi antara keduanya dan akhirnya dicapai titik keseimbangan baru. Karena pada awalnya terjadi kesenjangan budaya, maka pemerintah membutuhkan agen-agen penyalur perubahan budaya ini.
Pada masa orde baru, elite pemerintahan birokrasi desa yang dipantau ketat berperan aktif dalam menyalurkan perubahan kebudayaan ini. Ada kalanya perubahan kebudayaan ini mendapat penolakan dari beberapa pihak. Namun sikap represif dan antipati segera akan muncul dan menyebabkan kelompok penolak perubahan budaya ini seolah-olah tersingkir dari lingkungan sosialnya. Seringkali terjadi penamaan status-status kepada kelompok yang menolak perubahan budaya ini. Misalnya saja orang tersebut dikatakan “kuno dan tentinggal”, “ndeso”, “tidak taat aturan” dan sebagainya. Penyikapan sosial inilah yang secara perlahan merubah penolakan (resistan) kepada penerimaan. Perlahan-lahan kebudayaan baru diterapkan dan kebudayaan lama ditinggalkan. Kalaupun kebudayaan lama masih dilakukan itupun sangat jarang.
Misalnya saja program listrik masuk desa dengan sangat cepat akan diikuti invasi teknologi, orang mulai beli radio, televisi, lemari es, mesin cuci dan sebagainya. Akses informasi yang dibawa oleh masing-masing alat komunikasi ini kemudian membawa nilai-nilai baru bagi warga desa.
Inovasi teknologi pertanian dari yang semula menggunakan peralatan sederhana menjadi mesin modern, dari yang semula membajak dengan binatang diganti membajak dengan mesin, semula menumbuk dengan alu berganti menumbuk otomatis dengan mesin, semula mengangkut hasil pertanian dengan pedati berganti dengan mobil. Kenyataan ini tidak hanya merubah paradigma masyarakat yang semula motivasi bertani adalah bertahan hidup, menjadi orientasi profit finansial. Disamping itu juga, percepatan panen padi membawa budaya instan dan sikap tergesa-gesa.
Program Keluarga Berencana (KB) merubah kebiasaan masyarakat dari “keluarga besar” menjadi—meminjam istilah pemerintah—“keluarga kecil sejahtera”. Pergeseran ini tidak hanya merubah pola hubungan keluarga dari “keterkaitan genetik/persaudaraan” menjadi “keterkaitan reproduksi dan finansial”, namun juga mengeliminasi adanya organisasi kultural masyarakat dalam sebuah “keluarga besar”.
Teknologi permainan merubah jenis permainan kelompok menjadi permainan modern teknologis yang cenderung individual. Misalnya permainan tradisional gobak sodor, gundu, patek lele, jumpritan tidak lagi populer dan diganti dengan permainan baru seperti Play Station (PS) dan game. Permainan tradisonal yang pada dasarnya menumbuhkembangkan psikomotorik-afektif diganti dengan permainan modern yang mengarah pada kognitif saja. Ini berpengaruh terhadap karakter anak setelah ia berkembang dan hidup dalam lingkungan sosial yang lebih luas.
Sehingga, kemudian jika ada orang atau sekelompok orang yang memiliki atau memelihara pola-pola budaya lama, dengan segera ia akan dicap buruk dan disingkirkan dari kelompok. Boleh jadi orang seperti ini akan dianggap menghalangi kemajuan, anti-progresifitas. Perlakuan ini membuat orang kemudian malu untuk menggunakan budaya lama dalam kehidupan sehari-hari, dan karena tidak pernah digunakan lagi budaya itu berangsur-angsur hilang.


a)      Dampak Positif Pegeseran Nilai masyarakat Tradisional ke Moderen
Seperti yang telah di kemukakan diatas bahwa pergeseran nilai budya menimbulkan dampak positif ataupun negative, Dampak positifnya yaitu:
1.      Arus komunikasi Lancar
Perubahan masyarakat dari tradisional ke modern berdampak pada sarana komunikasi, pada masyarakat tradisional mungkin masih menggunakan pentungan atau kulkul, burung merpati, surat sebagai alat berkomunikasi satu dengan yang lainya, dngan terjadinya pegeseran nilai-nilai maka sarana kmunikasi semakin cepat. Contoh ada handphone, telegram, dan sejenisnya sehingga komunikasi meenjadi cepat dan mudah dilaksanakan.
2.      Berkembangnya ilmu pengetauan dan tehnologi
Pergerseran masyarakat tradisional menuju masyarakat modern membawa dampak yang sangat signifikan yaitu masyarakat modern yang yang dulunya tradisional dapat beraktivitas jauh lebih mudah. Contoh : pada masyarakat  yang dulu menggumakan tulisan tangan dalam mengirim surat sekarang sudah bisa lewat komputer atau pun laptop.
3.      Tingkat hidup yang lebih baik
Peergeseran nilai erat hubunganya dengan pengaruh globalisasi, globalisasi menyebakan pergeseran nilai budaya. Berhubungan pula dengan industry-industri maju, dengan dibukanya industri yang memproduksi alat-alat komunikasi dan trasportasi yang canggih merupakan salah satu untuk mengurangi pengangguran dan meningkatkan taraf hidup masyarakat.
4.      Perubahan sistem pengetahuan
Masyarakat bila sudah modern akan memilki kesadaran betapa pentingnya pendidikan. Dengan bekal pengetahuan masyarakat sudah siap untuk menghadapi pergeseran nilai yang mungkin terjadi di era global. Dengan pengetahuan pula kita dapat memproduksi  barang dan jasa dengan mudah.
5.      Perubahan Pandangan Hidup
Pandangan hidup merupakan seseorang atau sekelompok orang yang bermangsud menanggapi dan memeranggakan segala masalah yang tejadi. Pandangan hidup sebgai komponen budaya cenderung berubah sejalan dengan perubahan konsep hidup masyarakat. Perubahan pandangan hidup masyarakat Indonesia terlihat pada perubahan sikapnya, prilaku dan karyanya  berkat pembangunan berkembanglah pandangan tentang pentingnya keseimabangan kehidupan yang material dan spiritual, pembaguanan yang berwawasan lingkungan.
b)     Dampak Negatif  Pergeseran nilai masyarakat Tradisional ke Moderen
Pergeseran nilai-nilai masyarakat selain berdampak positif dapat  juga dapat menimbulkan dampak negative, seperti :
1.      Timbulnya sikap individualistis
Masyarakat merasa sangat dimudahkan dengan tehnologi maju  membuat mereka tidak lagi membutuhkan orang lain dalam aktivitasnya. Kadang- kadang mereka lupa akan dirinya sebagai mahluk social. Mereka cenderung untuk hidup sendiri-sendiri tanpa memperhatikan orang lain, rasa getong royong, ramah tamah dan sopan santun mulai memudar. Nilai-nilai yang telah dijunjung sesuai budaya leluhur mereka akan mulai di tinggalkan. Akibat dari memudarnya nilai-nilai budaya local akan menimbulkan sikap individualistis


2.      Kesenjangan social
Pergeseran nilai masyarakat tradisional ke modern tidak lepas dari pengaruh modernisasi dan pengaruh globalisasi, bila ada beberapa individu yang dapat mengikuti pengaruh tersebut akan terjadi kesenjangan social. Kesenjangan social akan menyebabkan jarak anatara si kaya dan si miskin dan hal ini bisa merusak nilai-nilai kebinekaan dan ketunggalikan bangsa Indonesia. Hal ii juga akan memicu prasangka social, persaingan dalam kehidupan cenderung akan mebuat orang tersebut frustasi, maka orang akan timbulah tindak criminal seperti perampokan hanya untuk alasan pemenuhan kebutuhan.
3.      Masuknya Nilai-nilai Dari Budaya Lain
Masyarakat modern umumnya telah mengetahui tehnologi, seperti internet, handpone media televise dan tehnologi yang lainya yang ditiru habis-habisan. Internet contohnya bila digunakan untuk memperdalam materi pejaran itu baik. Tetapi sebaliknya dan ini sebuah kenyataan bahwa internet terkadang digunakan untuk mengakses video porno atau yang betentangan dengan norma-norma masyarakat. Selain itu apresiasi terhadap nilai budaya localpun pudar serta nilai keagamaan akan mengalami kemunduran. Disini bisa dilihat pergeseran nilainya yaitu Beralih ke budaya barat dan budaya lainya.
4.      Penyebaran nilai-nilai politik barat yang kurang
Penyebaran nilai-nilai politik barat secara langsung atau tidak langsung dalam bentuk-bentuk unjuk rasa, demonstrasi yang semakin berani dan terkadang mengabaikan kepentingan umum. Masyarakat cenderung menghadapi dengan anarkisme.
5.      Kenakalan Remaja
Imbas dari pergeseran nilai-nilai masyarakat moderent adalah kenakalan remaja. Pengaruh internet ataupun HP yang ditiru habis-habisan menimbulkan kenakalan remaja, contoh bila remaja membawa Hp camera bisa menyimpan sesuatu yang porno didalam hpnya sehingga suatu saat pasti remaja mencoba adegan itu, padahal adegan itu hanyalah untuk orang yang sudah mempunyai ikatan perkawinan. Maka telah terjadi pegeseran nilai masyarakat tradisional ke modern. Masyarakat Moderen cenderung melupakan budaya aslinya.
6.      Adanya Penyakit Masyarakat

Penyakit masyarakat atau Patologi Sosial bisa muncul di karenakan pergeseran nilai masyarakat, seperti yang telah dijelaskan bahwa pergeseran nilai berdampak pada kesenjangan social. Maka si miskin terpaksa mencuri untuk pemenuhan kebutuhan. Selain itu banyak orang memilih untuk menjadi Psk itupun kebanyakan karena alasan kebutuhan, walau ada karena alasan lain. Maka pergeseran nilai dan norma kesusilaan bergeser secara cepat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar