Ads Here

Kamis, 19 Oktober 2017

Sejarah Antropologi Sejarah

A.    Antropologi berasal dari kata bahasa Yunani, yaitu antrophos yang berarti manusia, dan logos yang berarti ilmu. Antropologi mempelajari manusia sebagai makhluk biologis, sekaligus makhluk sosial. Ada beberapa pengertian antropologi (dalam Saebani, 2012), yaitu sebagai berikut:
1.      Antropologi merupakan salah satu cabang ilmu sosial yang mempelajari budaya masyarakat etnis tertentu, yang berawal dari ketertarikan orang-orang Eropa dengan melihat cirri-ciri fisik, adat-istiadat dan budaya yang berbeda dengan budaya yang dikenal di Eropa.
2.       Antropologi lebih memusatkan pada penduduk sebagai masyarakat tunggal, yaitu kesatuan masyarakat yang tinggal di daerah yang sama. Antropologi hampir identik dengan sosiologi. Akan tetapi, sosiologi lebih menitikberatkan pada masyarakat dan kehidupan sosialnya, sedangkan antropologi menitikberatkan pada unsur budaya, pola pikir, dan pola kehidupannya.
3.      Willian A. Haviland (1988: 6) mengatakan bahwa antropologi adalah studi menngenai umat manusia yang berusaha menyusun generalisasi yang bermanfaat tentang manusia dan perilakunya, serta untuk memperoleh pengertian yang lengkap tentang keanekaragaman manusia.
4.      David Hunter (1979: 9) mengatakan bahwa antropologi adalah ilmu yang muncul dari keingintahuan yang tidak terbatas mengenai umat manusia.
5.      Benedict (1989: 1) antropologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari manusia sebagai makhluk sosial. Perhatiannya ditujukan pada sifat-sifat khusus fisik manusia, cara produksi, tradisi, dan nilai-nilai pedoman kehidupan bermasyarakat, atau norma yang membedakan pergaulan hidup antar masyarakat, bangsa, dan Negara.
6.      Koentjaraningrat (1989: 13) mengatakan bahwa antropologi adalah ilmu yang mempelajari umat manusia pada umumnya dengan mempelajari berbagai warna, bentuk fisik masyarakat, sertakebudayaan yang dihasilkan.
7.      Menurut Zerhun Dodda : Antropologi adalah studi ilmu yang mempelajari tentang manusia.

Ø  Kesimpulan dari kelompok kami
Dari definisi-definisi tersebut, dapat disusun pengertian sederhana Antropologi, yaitu sebuah ilmu yang mempelajari tentang segala aspek dari manusia, yang terdiri dari aspek fisik dan nonfisik berupa warna kulit, bentuk rambut, bentuk mata, kebudayaan, aspek politik, dan berbagai pengetahuan tentang corak kehidupan lainnya yang bermanfaat.

B.     Antropologi Sebagai sebuah ilmu, antropologi mengalami sejarah perkembangan yang terdiri dari empat fase, yaitu:
1.      Fase Pertama (sebelum tahun 1800) Sejak akhir abad ke-15 dan awal abad 16, pada fase ini orang Eropa mulai mengelilingi wilayah dikawasan benua Asia, Afrika, Amerika hingga Australia. Negara-negara Eropa Barat yang terdiri dari para musafir, pelaut, pendeta dan kaum nasrani selama berjelajah mengelilingi dunia merekabanyak menemukan hal-hal baru yang menurut mereka berbeda bangsa Eropa. Hal tersebut mendorong mereka untuk mencatat dalam buku hingga terdapat kumpulan buku yang berupa himpunan besar dari bahan pengetahuan berupa deskripsi tentang keanekaragaman suku bangsa pribumi Afrika, Asia, dan Amerika baik dari adat istiadat, susunan masyarakat, maupun bahasa dan ciriciri fisik. Hal itu menimbulkan ketertarikan bangsa Eropa, karena semua itu sangat berbeda dengan keadaan bangsa Eropa. Bahan pengetahuan itu disebut bahan Etnografi, yaitu deskripsi tentang bangsa-bangsa.

2.      Fase Kedua (Pertengahan abad ke-19) Pertengahan abad 19, mulai ada usaha untuk mengintegrasikan bahanbahan etnografi untuk disusun menjadi sebuah karangan-karangan. Penyusunan bahan Etnografi tersebut bardasarkan cara berfikir evolusi masyarakat, yaitu perkembangan masyarakat dan kebudayaan sangatlah lambat. Di mulai dari tingkat terendah melalui beberapa proses, yang akhirnya sampai di tingkat tertinggi. Masyarakat yang masih ada di tingkat rendah dari kebudayaan manusia zaman dahulu, mereka adalah salah satu contoh masyarakat primitif, sedangkan untuk masyarakat yang ada di tingkat tinggi adalah bangsa Eropa sendiri. Sekitar tahun 1860 muncul karangan yang mengklasifikasikan aneka kebudayaan di dunia ke dalam tingkat evolusi tertentu. Maka muncullah ilmu antropologi. Dengan meneliti bangsa-bangsa di luar Eropa, diharapkan dapat menambah pengetahuan tentang sejarah penyebaran kebudayaan manusia di dunia. Antropologi merupakan ilmu yang tidak mempunyai tujuan secara langsung bersifat praktis dan hanya dilakukan di kalangan sarjana universitas. Tujuan antropologi pada fase kedua ini adalah akademis, yaitu mempelajari masyarakat dan kebudayaan primitif dengan maksud untuk memperoleh pemahaman tentang tingkat-tingkat sejarah penyebarankebudayaan manusia.

3.      Fase Ketiga (Awal abad ke-20) Dalam fase ketiga ini, ilmu antropologi menjadi ilmu yang praktis, yang bertujuan mempelajari masyarakat dan kebudayaan suku-suku bangsa di luar Eropa guna kepentingan pemerintah kolonial dan guna mendapat pengertian tentang masyarakat masa kini yang semakin kompleks. Dalam hal ini, ilmu antropologi sangat penting karena menyangkut juga tentang pentingnya dalam mempelajari kebudayaan bangsa-bangsa di luar Eropa, yang masih mempunyai masyarakat yang belum kompleks. Ilmu antropologi berkembang di negara-negara penjajah, terutama Inggris, bahkan berkembang juga di Negara Amerika Serikat, yang bukan merupakan negara kolonial.

4.      Fase Keempat (Setelah tahun 1930-an) Pada fase ini ilmu antropologi mengalami masa perkembangannya yang paling luas atau semakin pesat. Hal ini termasuk dengan bertambahnya bahan pengetahuan yang jauh lebih teliti, maupun mengenai ketajaman dari metodemetode ilmiahnya. Kecuali itu kita lihat adanya dua perubahan di dunia, yaitu timbulnya anti pati terhadap kolonialisme terhadap perang dunia II, serta cepat hilangnya bangsa-bangsa primitif (dalam arti bangsa-bangsa asli dan terpencil dari pengaruh kebudayaan Eropa dan Amerika) yang sekitar tahun 1930 mulai hilang, dan sesudah perang dunia II memang hampir tak adalagi di muka bumi. Proses tersebut menyebabkan seolah-olah lapangan dalam ilmu antropologi telah hilang, sehingga memunculkan sebuah dorongan untuk memunculkan ideuntuk mengembangkan lapangan penelitian dengan ide dan tujuan baru. Adapun bahan-bahan etnografi yang terdapat dalam fase pertama, kedua maupun yang ketiga tidak dihilangkan begitu saja melainkan dijadikan sebagai landasan bagi perkembangannya yang baru. Pada fase keempat ini antropologi memiliki dua tujuan utama, yaitu tujuan akademis untuk mencapai pemahaman tentang manusia berdasarkan bentuk fisiknya, masyarakatnya, maupun kebudayaannya. Tujuan praktis untuk mempelajari manusia dalam berbagai masyarakat suku bangsa guna membangun suku bangsa tersebut.

C.     Berdasarkan cabang-cabang antropologi yang disajikan pada gambar 2, maka antropologi memiliki banyak hubungan timbal-balik dengan ilmu-ilmu lain seperti Sosiologi, Psikologi, Ekonomi, Sejarah, dan Geografi.Secara terinci hubungan-hubungan tersebut sebagaimana dikemukakan oleh Koentjaraningrat (2009) adalah sebagai berikut:

·         Hubungan antara Sosiologi dan Antropologi
Sosiologi berasal dari bahasa Latin, yaitu socius yang berarti kawan atau teman,dan logos yang berarti ilmu pengetahuan. Istilah sosiologi pertama kali dipublikasikan oleh August Comte (1798-1857) dalam bukunya Cours De Philoshopie Positive. Dalam Saebani (2012) sosiologi hendaknya mempelajari masyarakat, perilaku masyarakat, dan perilaku sosial manusia dengan mengamati perilaku kelompok yang dibangunnya. Sebagai sebuah ilmu, sosiologi merupakan pengetahuan kemasyarakatan yang tersusun dari hasil-hasil pemikiran ilmiah dan dapat di kontrol secara kritis oleh orang lain. Dengan pengertian tersebut, hubungan antara antropologi dengan sosiologi sangat erat. Apabila kajian antropologi adalah manusia, fisik, dan kebudayaannya, kajian sosiologi adalah hubungan antara struktur sosial dengan kebudayaan masyarakat.

·         Hubungan antara Psikologi dan Antropologi
Istilah psikologi berasal dari bahasa yunani “psyche” yang berarti jiwa, dan “logos” yang berarti ilmu. Secara harfiah, psikologi berarti ilmu jiwa. Dalam Saebani (2012) hubungan dengan antropologi dapat dilihat dari berbagai segi, diantaranya untuk menyelidiki jiwa manusia yang membentuk corak tingkah laku pada antropologi perilaku manusia bagian awal timbulnya kebudayaan. Oleh karena itu, tingkah laku sebagai objek yang sama dengan psikologi. Tanda-tanda perkembangan manusia secara fisik dan budaya. Psikologi dan antropologi mengkaji tanda-tanda perkembangan kebudayaan manusia mengikuti berbagai penemuan, baik secara materiil maupun substansial. Adapun antropologi psikologi adalah cabang dari antropologi yang bersifat interdispliner yang mengkaji interaksi kebudayaan dan proses mental.

·         Hubungan antara Ekonomi dan Antropologi
Keadaan masyarakat sangat mempengaruhi kekuatan, proses serta hukum-hukum yang berlaku dalam aktivitas ekonomi masyarakat. Untuk membangun perekonomian suatu negara, seorang ahli ekonomi memerlukan bahan komperatif mengenai berbagai unsur kemasyarakatan dalam negara tersebut. Untuk mengumpulkan keterangan tersebut, ilmu antropologi sangat dibutuhkan oleh seorang ahli ekonomi. Perubahan dalam bidang ekonomi sendiri mempunyai andil yang sangat besar dalam perubahan kebudayaan masyarakatnya. Semakin maju perekonomian suatu masyarakat, maka kebudayaanya pun ikut berubah.

·         Hubungan antara Ilmu Sejarah dan Antropologi
Antroplogi bagaikan sejarah manusia. Bagi para penganut aliran sejarah dan evolusi, antropologi adalah sejarah manusia dan kemanusiaannya. Antropologi sangat membutuhkan sejarah karena antropologi berbicara tentang manusia dengan ciri-ciri fisiknya dari zaman ke zaman, bahasa manusia, kebudayaan dan seluruh kehidupan masa lalu yang membentuk peradaban manusia. Hubungan antar keduanya sangat fungsional dan saling mengisi dari aspek ilmu pengetahuantentang manusia. Antropologi member bahan prehistori sebagai pangkal tiap penulis sejarah dari tiap bangsa di dunia. Selain banyak masalah tentang histografi sejarah suatu bangsa dapat dipecahkan dengan metode antropologi. Sumber sejarah bisa berupa prasasti, dokumen, naskah tradisional, dan arsip kuno.


·         Hubungan antara Geografi dan Antropologi
Geografi adalah ilmu yang mempelajari tentang bumi beserta isinya. Isi dari bumi itu sendiri adalah flora, fauna, manusia dan bentang alam yang ada di permukaan bumi. Melihat objek kajian dari geografi yang juga menyebut manusia, maka tidak bisa dipungkiri lagi bahwa geografi memerlukan antroplogi dalam kajiannya. Penyebabnya karena antroplogi mempelajari tentang berbagai warna manusia baik dari segi suku bangsa, etnis maupun ras. Sebaliknya, antroplogi juga memerlukan geografi untuk mempelajari tentang bentang alam karena salah satu yang mempengaruhi kebudayaan manusia adalah keadaan lingkungan fisik tempat mereka hidup.


D.    Manfaat mempelajari Antropologi :
·         Antropologi budaya banyak memberikan bahan-bahan, pandangan, teori, pendapat sehingga dapat secara metodis menghadapi segala gejala yang timbul dalam masyarakat yang terus berkembang.
·         Antropologi budaya memberikan pengetahuan tentang perkembangannya baik sebagai ilmu dan penerapannya dalam penelitian dari segi kehidupan manusia.
·         Antropologi dapat mengarahkan pembangaunan bangsa dan negara secara baik.

Banyak manfaat yang kita dapat dengan mempelajari antropologi budaya, yang pertama kita dapat mengetahui beraneka ragam kebudayaan manusia, yang meliputi gejala-gejala budaya, nilai-nilai yang dipatuhi dan dikukuhi sehingga mempengaruhi pola perilaku masyarakat tersebut dan kita juga dapat memahami sistem-sistem lambang suatu kebudayaan sebagai tanda pengenal kebudayaan tertentu yang digunakan warga-warga pendukung nilai-nilai budaya yang tersebut. Manfaat yang kedua yakni kita memperoleh pandangan mengenai nilai-nilai budaya yang berbeda dari yang kita anut. Ketiga, kita dapat mengetahui hal-hal yang berlaku umum bagi kebudayaan manusia pada umumnya. Kemudian yang keempat yakni kita dapat memperoleh gambaran mengenai hal-hal yang mempengaruhi keanekaragaman kebudayaan manusia.



a.  Antropologi Fisik

Mempunyai tujuan untuk mencapai pengertian tentang beraneka ragam mahluk manusia dipandang dari sudut ciri-ciri tubuhnya dengan memakai ciri-ciri tubuh lahiriyah (fenotopik) dan ciri-ciri tuuh rohaniah (genetotip). Yang dimulai sejak lahirnya manusia kedunia ( pithecanthropus ) sampai manusia sekarang ( homo sapiens ).

Antropologi fisik lebih membahas struktur fisik dan asal usul manusia dengan proses fisiologisnya dan antropologi budaya didalamnya mencakup ilmu-ilmu sosial, seni dan ilmu-ilmu kemanusiaan yang lain.

b.  Antropologi Budaya


Perkembangan antropologi budaya dimulai pada masa penjajahan Belanda sekitar abad ke-19. Pada waktu itu antropologi digunakan secara praktis. Dalam perkembangan selanjutnya melahirkan antropologi sosial dimana antropologi sosial ini lebih menekankan pada salah satu fungsi dari unsur kebudayaan. Jadi tugas antropologi sosial adalah meneliti secara sistimatis pranata-pranata kemasyarakatan termasuk susunan politis dari masyakat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar