MAKALAH
STATISTIKA
STATISTIKA
DAN PROBABILITAS
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1.Latar
Belakang
Pada dasarnya statistika ialah
sebuah konsep dalam bereksperimen, menganalisa data yang bertujuan untuk
mengefisiensikan waktu, tenaga dan biaya dengan memperoleh hasil yang optimal.
Berdasarkan definisinya Statistika merupakan ilmu yang mempelajari bagaimana
merencanakan, mengumpulkan, menganalisis, menginterpretasi, dan
mempresentasikan data. Sedangkan statistik adalah data, informasi, atau hasil
penerapan algoritma statistika pada suatu data. Data sendiri merupakan kumpulan
fakta atau angka.
Disadari atau tidak, statistika
telah banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan pemerintah
menggunakan statistika untuk menilai hasil pembangunan masa lalu dan juga untuk
membuat rencana masa datang. Begitu pula Pimpinan mengambil manfaat dari
kegunaan statistika untuk melakukan tindakan - tindakan yang perlu dalam
menjalankan tugasnya, diantaranya: perlukah mengangkat pegawai baru, sudah waktunyakah
untuk membeli mesin baru, bermanfaatkah kalau pegawai di tatar, bagaimanakah
kemajuan usaha tahun tahun yang lalu, berapa banyak barang harus dihasilkan
setiap tahunnya, perlukah sistem baru dianut dan sistem lama ditinggalkan, dan
masih banyak lagi untuk disebutkan. Dunia penelitian atau riset, dimanapun
dilakukan bukan saja telah mendapat manfaat yang baik dari statistika tetapi
sering harus menggunakannya. Untuk mengetahui apakah cara yang baru ditemukan
lebih baik daripada cara lama, melalui riset yang dilakukan dilaboratorium,
atau penelitian yang dilakukan di lapangan, perlu diadakan penilaian dengan
statistika. Apakah model untuk sesuatu hal dapat kita anut atau tidak, perlu
diteliti dengan menggunakan teori statistika. Statistika juga telah cukup mampu
untuk menentukan apakah faktor yang satu dipengaruhi atau mempengaruhi faktor
lainnya. Kalau ada hubungan antara factor - faktor, berapa kuat adanya hubungan
tersebut? Bisakah kita meninggalkan faktor yang satu dan hanya memperhatikan
faktor lainnya untuk keperluan studi lebih lanjut.
Uraian singkat tadi, hendaknya
cukup dapat memberikan gambaran bahwa statistika sebenarnya diperlukan, minimal
penggunaan metodanya. Sesungguhnya statistika sangat diperlukan bukan saja
hanya dalam penelitian atau riset, tetapi juga perlu dalam bidang pengetahuan
lainnya seperti : teknik, industri, ekonomi, astronomi, biologi, kedokteran,
asuransi, pertanian, perniagaan, bisnis, sosiologi, antropologi, pemerintahan,
pendidikan, psikologi, meteorologi, geologi, farmasi, ekologi, pengetahuan
alam, pengetahuan sosial, dan lain sebagainya.
Penguasaan statistika dan kemampuan
menggunakannya merupakan suatu hal yang sangat penting dan sangat bermanfaat
bagi sebuah organisasi perusahaan khususnya dalam bidang ekonomi dan bisnis.
Karena dengan itu, sebuah organisasi perusahaan bisa mendapatkan informasi yang
sangat berguna bagi kemajuan perusahaannya. Informasi tersebut bisa didapatkan
dari hasil pengolahan data yang telah disimpulkan kemudian data tersebut bisa
kita analisa untuk dijadikan bahan perkiraan dalam mengambil keputusan di masa
yang akan datang. Semakin berkembang pesatnya teknologi di zaman sekarang ini,
setiap perusahaan menginginkan agar bisa
menggunakan teknologi tersebut dalam membuat sebuah perencanaan yang matang
untuk masa depan perusahaannya dari informasi yang telah ada pada
perusahaannya. Informasi tersebut terdiri dari data variabel dan juga data
numerik yang telah dikumpulkan, dibagi-bagi, kemudian diolah menjadi data
ringkasan yang berbentuk variabel maupun angka-angka. Dalam pengolahan data
tersebut, setiap perusahaan bisa menggunakan teknologi komputer dari aplikasi
yang telah dibuat oleh Perusahaan Microsoft seperti Microsoft Office Excel dan
ada juga aplikasi komputer yang membantu untuk pengolahan data seperti aplikasi
SPSS. Oleh karena itu, kami mencoba untuk membuat kerangka tulisan ini yang
membahas mengenai bagaimana cara penggunaan aplikasi tersebut dalam pengolahan
data yang diinginkan dengan pengetahuan yang kami dapatkan dari kuliah
Statistika Deskriptif dan juga dari berbagai sumber yang kami peroleh baik dari
media internet maupun buku-buku yang membahas tentang penggunaan aplikasi
tersebut.
Dalam makalah ini, kami akan
membahas materi yang berjudul ”STISTIKA DAN PROBABILITAS”. Alasan kami memilih
judul ini karena kami ingin menambah wawasan tentang bagaimana data itu
tersebar.
1.2 Tujuan
1. Memahami cara
menentukan Data-data dalam statistik dan Probabilitas.
2. menunjukan manfaat
statistika dan probabilitas dalam kehidupan sehari-hari
3. Untuk memenuhi salah
satu tugas ujian MID 2 semester 1 pada
mata kuliah Statistika
1.3 Rumusan Masalah
1. Pengertian statistika dan distribusi
frekuensi data
2. Probabilitas dan
bagian-bagiannya
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1
STATISTIKA
2.1.1 Pengertian Statistika dan Distribusi
Frekuensi
Statistik,
secara istilah memiliki arti data yang berupa angka-angka yang dikumpulkan,
ditabulasi, digolong-golongkan sehingga dapat memberikan informasi yang berarti
mengenai suatu masalah atau gejala yang terjadi. Dari kumpulan data yang berupa
angka-angka tersebut terdapat ukuran
gejala pusat data yang berguna untuk mengetahui lokasi data dibandingkan dengan
pusat data.
Statistika
merupakan ilmu yang mempelajari statistik yaitu ilmu tentang pengumpulan, pengolahan, penyajian, dan
analisis data serta cara pengambilan kesimpulan secara umum berdasarkan hasil
penelitian yang tidak menyeluruh. Ilmu Statistika berguna untuk memberikan
informasi atas gejala perubahan yang terjadi dengan menjelaskan hubungan antar
variabel yang ada, dan juga untuk mengambil keputusan yang lebih baik dari
perencanaan yang dilakukan.
Dalam
ilmu statistika terdapat istilah distribusi frekuensi. Distribusi frekuensi
adalah penyusunan data ke dalam kelas-kelas tertentu yang sebelumnya data
tersebut masih mentah atau belum dikelompokkan kemudian diatur sedemikian rupa
sehingga menjadi data yang sudah dikelompokkan yang tertata rapih tanpa
menghilangkan informasi yang sudah ada. Distribusi frekuensi terbagi menjadi
dua macam yaitu Distribusi Frekuensi Numerical (pengelompokkan data dengan
angka-angka) dan Distribusi Frekuensi
Kategorikal (pengelompokkan data berdasarkan ketegori-kategori tertentu).
2.1.2
Definisi Statistik
Ada 2 pendekatan untuk menganalisis
informasi berdasarkan jenis informasi yang diperoleh, yaitu analisis
kuantitatif dan analisis kualitatif. Analisis kuantitatif/analisis data
kuantitatif adalah analisis yang berbasis pada kerja hitung-menghitung angka.
Angka yang diolah disebut input dan hasilnya disebut output juga berupa angka.
Analisis kualitatif/analisis data kualitatif adalah analisis yang berbasis pada
kerja pengelompokan simbol-simbol selain angka. Simbol itu berupa kata, frase,
atau kalimat yang menunjukkan beberapa kategori. Input maupun output analisis
data kualitatif berupa simbol, dimana outputnya disebut deskripsi verbal.
Statistik
adalah sebagai alat pengolah data angka. Stasistik dapat juga diartikan sebagai
metode/asas-asas guna mengerjakan/memanipulasi data kuantitatif agar angka
berbicara. Pendekatan dengan statistik sering digunakan metode statistic yaitu
metode guna mengumpulkan, mengolah, menyajikan, menganalisis dan menginterpretasikan
data statistik. Statistika dapat pula diartikan pengetahuan yang berhubungan
dengan pengumpulan data, pengolahan data, penganalisisan dan penarikan
kesimpulan berdasarkan data dan analisis. Jadi statistik adalah produk dari
kerja statistika.
Ada
dua konsep dalam bahasa Inggris.Statistic: nilai yang dihitung dari sebuah
sampel (mean, median, modus, dsb). Statistics: metode ilmiah untuk pengumpulan data
atau kumpulan angka. Dalam bahasa Indonesia, statistik memiliki 3 pengertian dimuka.
•Kumpulan data = data
•Nilai yang dihitung
dari dari sebuah sampel = statistik sampel
• Metode ilmiah guna
mengumpulkan, mengolah, menyajikan, dan analisis data = statistik
2.1.2.1
Pengertian Dispersi dan Rumusannya
Dispersi
/ Ukuran penyebaran Data adalah suatu ukuran baik parameter atau statistika
untuk mengetahui seberapa besar penyimpangan data. Melalui ukuran penyebaran
dapat diketahui seberapa jauh data-data menyebar dari titik pemusatannya/ suatu
kelompok data terhadap pusat data.Ukuran ini kadang – kadang dinamakan pula
ukuran variasi yang mnggambarkan berpencarnya data kuantitatif. Beberapa ukuran
dispersi yang terkenal dan akan diuraikan disini ialah : Rentang, Rentang natar
kuartil, simpangan kuartil/deviasi kuartil, rata-rata simpangan/rata-rata
deviasi, simpangan baku atau standar deviasi, variansi dan koefisien variansi,
jangkauan kuartil, dan jangkauan persentil.
2.1.2.2
Rentang (range) :
Rentang
(Range) dinotasikan sebagai R, menyatakan ukuran yang menunjukkan selisih nilai
antara maksimum dan minimum atau selisih bilangan terbesar dengan bilangan
terkecil.
Rentang
merupakan ukuran penyebaran yang sangat
kasar, sebab hanya bersangkutan dengan bilangan terbesar dan terkecil.Semakin
kecil nilai R maka kualitas data akan semakin baik, sebaliknya semakin besar
nilai R, maka kualitasnya semakin tidak baik.
Rentang
cukup baik digunakan untuk mengukur penyebaran data yang simetrik dan nilai
datanya menyebar merata. Ukuran ini menjadi tidak relevan jika nilai data
maksimum dan minimumnya merupakan nilai ekstrim.
Rentang = Xmax – Xmin,
Xmax adalah data
terbesar dan Xmin adalah data terkecil.
2.1.2.3
Deviasi Rata-rata
Arti deviasi rata-rata penyebaran
Berdasarkan harga mutlak simpangan bilangan-bilangan terhadap rata-ratanya.
Makin besar simpangan, makin besar nilai deviasi rata-rata.
2.1.2.4
Varians
Arti penyebaran berdasarkan jumlah kuadrat
simpangan bilangan-bilangan terhadap rata-ratanya ; melihat ketidaksamaan
sekelompok data
2.1.2.5 Deviasi Standar
penyebaran berdasarkan
akar dari varians dan menunjukkan keragaman kelompok data.
2.1.2.6
Median
Median adalah salah satu ukuran
pemusatan yang sering digunakan. Median dari segugus data yang telah diurutkan
dari yang terkecil sampai yang terbesar atau dari terbesar sampai terkecil
adalah pengamatan yang tepat di tengah-tengah bila banyaknya pengamatan itu
ganjil, atau rata-rata kedua pengamatan yang di tengah bila banyaknya
pengamatan genap.
contoh :
Dari lima kali kuiz
statistika, seorang mahasiswa memperoleh nilai 82, 93, 86, 92, dan 79. Tentukan
median populasi ini.
jawab: Setelah data
disusun dari yang terkecil sampai terbesar, diperoleh 79 82 86 92 93 Oleh
karena itu medianya adalah 86
Kada nikotin yang
berasal dari sebuah contoh acak enam batang rokok cap tertentu adalah 2.3, 2.7,
2.5, 2.9, 3.1, dan 1.9 miligram. Tentukan mediannya.
jawab: Bila kadar
nikotin itu diurutkan dari yang terkecil sampai terbesar, maka diperoleh 1.9
2.3 2.5 2.7 2.9 3.1
Maka mediannya adalah
rata-rata dari 2.5 dan 2.7, yaitu Median =
= 2.6
Selain
itu juga dapat dicari median dari data yang telah tersusun dalam bentuk
distribusi frekuensi. Rumus yang digunakan ada dua, yaitu Median = + c
Dimana :Bbk = batas
kelas bawah median c = lebar kelas s = Selisih antara nomor frekuensi median
dengan frekuensi kumulatif dari kelas-kelas di muka kelas median fM = frekuensi
kelas median
median = -
Dimana : Bak=batas
kelas atas median c= lebar kelas s' =
selisih antara nomor frekuensi median dengan frekuensi kumulatif sampai kelas
median fM = frekuensi kelas median
Sebelum
menggunakan kedua rumus di atas, terlebih dahulu harus ditentukan kelas yang
menjadi kelas median. Kelas median adalah kelas yang memuat nomor frekuensi
median, dan nomor frekuensi median ini ditentukan dengan membagi keseluruhan
data dengan dua.
Dengan menggunakan
kedua rumus diatas didapa :
Median = 39.5 +
10
= 45.2 Atau
Median = 49.5 - 10
= 45.2
2.1.3.2 Modus
Modus
segugus pengamatan adalah nilai yang terjadi paling sering atau yang mempunyai
frekuensi paling tinggi. Modus tidak selalu ada, hal ini bila semua pengamatan
mempunyai frekuensi terjadi yang sama. Untuk data tertentu, mungkin saja
terdapat beberapa dengan frekuensi tinggi, dan dalam hal demikian kita
mempunyai lebih dari satu modus.
contoh :
Sumbangan dari warga
Bogor pada hari Palang Merah Nasional tercatat sebagai berikut: Rp 9.000, Rp
10.000, Rp 5.000, Rp 9.000, Rp 9.000, Rp 7.000, Rp 8.000, Rp 6.000, Rp 10.000,
Rp 11.000. Maka modusnya, yaitu nilai yang terjadi dengan frekuensi paling
tinggi, adalah Rp 9.000.
Dari
dua belas pelajar sekolah lanjutan tingkat atas yang diambil secara acak
dicatat berapa kali mereka menonton film selama sebulan lalu. Data yang
diperoleh adalah 2, 0, 3, 1, 2, 4, 2, 5, 4, 0, 1 dan 4. Dalam kasus ini
terdapat dua modu, yaitu 2 dan 4, karena 2 dan 4 terdapat dengan frekuensi
tertinggi. Distribusi demikian dikatakan bimodus.
Sedangkan untuk mencari modus dari
data yang telah disusun dalam bentuk distribusi frekuensi terlebih dahulu
ditentukan kelas yang menjadi kelas modus. Kelas Modus adalah kelas yang
mempunyai frekuensi paling tinggi, lalu nilai modus ditentukan menggunkan rumus
berikut ini :
Modus = B1 + C
B1 = Batas bawah kelas
modus.
d1 = Selisih antara
frekuensi kelas modus dengan frekuensi kelas yang mendahuluinya.
d1 = Selisih antara
frekuensi kelas modus dengan frekuensi kelas berikutnya.
c = Lebar kelas modus.
2.1.3.3 Mean
2.4.3.3.1 Mean
Didalam bagian ini dibicarakan
mengenai harga rata-rata hitung (arithmetic mean), dimana harga rata-rata ini
dapat digunakan untuk data yang tak tersusun (ungrouped data), yaitu data yang
belum tersusun distribusi frekuensinya, ataupun data yang telah tersusun dalam
bentuk distribusi frekuensi (grouped data).
Rata-rata
hitung dikenal juga sebagai nilai tengah.Selain itu, rata-rata hitung dapat
juga dibagi menjadi dua yaitu, rata-rata hitung untuk segugus data yang
membentuk populasi, dan data yang merupakan contoh.
2.1.3.3.2
Rumus Rataan Hitung (Mean)
Rata-rata
hitung dihitung dengan cara membagi jumlah nilai data dengan banyaknya data.
Rata-rata hitung bisa juga disebut mean.
a) Rumus Rataan Hitung
dari Data Tunggal
b) Rumus Rataan Hitung
Untuk Data yang Disajikan Dalam Distribusi Frekuensi
Dengan : fixi = frekuensi untuk nilai xi yang
bersesuaian xi = data ke-i
c) Rumus Rataan Hitung
Gabungan
2.1.3.4 Quartile
Quartile adalah nilai-nilai yang
membagi segugus pengamatan menjadi empat bagian sama besar. Nilai-nilai itu,
yang dilambangkan dengan Q1, Q2, dan Q3, mempunyai sifat bahwa 25% data jatuh
dibawah Q1, 50% data jatuh dibawah Q2, dan 75% data jatuh dibawah Q3.
Contoh : Perhatikan
table umur aki mobil dibawah ini, dan cari Quartile ke 1 (Q1).
Jawab : Untuk
menghitung Q1 bagi distribusi umur aki, diperlukan nilai yang dibawahnya
terdapat (25/100) X 40 = 10 pengamatan. Karena pengamatan yang ke 10 dan ke 11
sama dengan 3.1 tahun, maka rat-ratanya juga 3.1 tahun jadi Q1 = 3.1 tahun.
Sedangkan untuk
menghitung Quartile dari data yang telah tersusun dalam bentuk distribusi
frekuensi (grouped data), digunakan rumus berikut.
Jawab : Diperlukan sebuah
nilai yang dibawahnya terdapat (75/100) X 50 = 37.5 pengmatan. Ada 27
pengamatan yang terdapat di bawah 15.5, sehingga masih diperlukan 10.5 diantara
15 pengamatan berikutnya. Sehingga
didapat,
= 15.5 + 3
= 17.6
2.1.3.5
Desile
Desile adalah nilai-nilai yang
membagi segugus pengamatan menjadi sepuluh bagian yang sama. Nilai-nilai itu,
dilambangkan dengan D1, D2, .....D9, mempunyai sifat bahwa 10% data jatuh
dibawah D1, 20% data jatuh dibawah D2, ..., dan 90% data jatuh dibawah D9.
Contoh : Hitung Desile
yang ke-7 D7 untuk data-data yang terdapat pada tabel berikut ini
Jawab : Cara menghitung desile sama persis
dengan cara menentukan quartile. Untuk menentukan D7 bagi distribusi umur aki,
harus ditemukan nilai yang dibawahnya terdapat (70/100) X 40 = 28 pengamtan.
Oleh karena nilai ini dapat berup sembarang nilai antara 3.7 tahun dan 3.8
tahun maka, yang diambil adalah rata-ratanya sehingga D7= 3.75 tahun.
Jadi dapat disimpulkan
bahwa 70% dari semua aki jenis ini umurnya akan kurang dari 3.75 tahun .
Sedangkan
untuk menghitung desile dari data yang telah tersusun dalam bentuk distribusi
frekuensi (grouped data) digunakan rumus berikut.
Di
= Bb + c
2.1.3.6
Persentile
Persentile
adalah nilai-nilai yang membagi segugus pengamatan menjadi seratus bagian yang
sama. Nilai-nilai itu, dilambangkan dengan P1, P2,...P99, mempunyai sifat bahwa
1% data jatuh dibawah P1, 2% data jatuh di bawah P2..., dan 99% data jatuh di
bawah P99.
Sedangkan
untuk menghitung persentile dari data yang telah tersusun dalam bentuk
distribusi frekuensi (grouped data), digunakan rumus berikut.
Pi
= Bb + C
Persentile ke-50, desil ke-5 dan
quartil ke-2 suatu distribusi disebut median. Kuartil dan desil juga merupakan
persentil. Misalnya, desil ke-7 adalah persentil ke-70, dan kuartil ke-2 adalah
juga persentil ke-50.
2.1.4
Distribusi Frekuensi
Dalam suatu penelitian biasanya
dilakukan suatu kegiatan pengumpulan data. Data-data ini digunakan untuk
mendukung penelitian, dimana hasil dari penelitian ini bergantung dari banyak
dan ketepatan data-data yang berhasil dikumpulkan. Untuk memudahkan penggunaan
data-data itu dalam penelitian, data-data itu dapat diringkaskan atau disusun.
Salah satu cara untuk mengatur atau
menyusun data adalah dengan mengelompokkan data-data berdasarkan ciri-ciri
penting dari sejumlah besar data, ke dalam beberapa kelas dan kemudian dihitung
banyaknya pengamatan yang masuk ke dalam setiap kelas. Susunan demikian ini dalam bentuk label, disebut
Distribusi frekuensi. Selain itu dapat pula disajikan dalam bentuk diagram dan
grafik.
Berdasarkan jenis data yang
digolongkan didalamnya distribusi frekuensi dibagi menjadi dua yaltu,
distribusi frekuensi bilangan (numerical frequency distribution) dan distribusi
frekuensi kategoris (categorical frequency distribution).
Distribusi frekuensi bilangan
adalah distribusi frekuensi yang berisikan data berupa angka-angka, dimana data
itu dibagi atas golongan-golongan yang dinamakan kelas-kelas, menurut besarnya
bilangan.
Tabel
2 .Distribusi Frekuensi Kategoris
|
Anak-anak
|
Gadis
|
Bersuami
|
Janda
|
|
30
|
35
|
25
|
10
|
Distribusi frekuensi kategoris
adalah distribusi frekuensi yang berisikan data bukan angka, dimana data itu
dibagi atas golongan-golongan yang dinamakan kelas-kelas, berdasarkan sifat
lain.
2.1.5
Distribusi Frekuensi Kumulatif
Dalam suatu keadaan yang menjadi
titik perhatian mungkin bukan pada banyaknya pengamatan pada kelas tertentu,
tetapi pada banyaknya pengamatan yang jatuh di atas atau di bawah sebuah nilai
tertentu. Distribusi Frekuensi semacan ini dikenal dengan sebagai Distribusi
Frekuensi Kumulatif.
Distribusi
Frekuensi Kumulatif terdiri dari dua macam, yaitu distribusi kumulatif kurang
dari dan distribusi kumulatif lebih dari. Distribusi Frekuensi Kumulatif kurang
dari menunjukkan berapa banyaknya frekuensi pengamatan yang menunjukkkan nilai
lebih kecil dari sebuah nilai atau nilai-nilai tertentu. Sedangkan Distribusi
Frekuensi Kumulatif lebih dari menunjukkan berapa banyaknya frekuensi
pengamatan yang menunjukkan nilai yang lebih besar dari sebuah nilai atau
nilai-nilai tertentu.
Tabel Distribusi
Frekuensi Kumulatif Kurang Dari
|
Batas Kelas
|
|
|
Frekuensi Relatif
|
|
|
kurang
dari 1.45
|
0
|
|
Kurang
dari1.95
|
2
|
|
Kurang
dari 2.45
|
3
|
|
Kurang
dari 2.95
|
7
|
|
Kurang
dari 3.45
|
22
|
|
Kurang
dari 3.95
|
32
|
|
Kurang
dari 4.45
|
37
|
|
Kurang
dari 4.95
|
40
|
Dari
tabel distribusi frekuensi kumulatif diatas, ada 7 pengamatan yang mempunyai
nilai kurang dari 3 .
Tabel
Distribusi Frekuensi Kumulatif Lebih Dari
|
Batas Kelas
|
Frekruensi Relatif
|
|
Lebih
dari 1.45
|
40
|
|
Lebih
dari 1.95
|
38
|
|
Lebih
dari 2.45
|
35
|
|
Lebih
dari 2.95
|
33
|
|
Lebih
dari 3.45
|
18
|
|
Lebih
dari 3.95
|
8
|
|
Lebih
dari 4.45
|
3
|
|
Lebih
dari 4.95
|
0
|
Dari tabel distribusi
frekuensi kumulatif diatas ada 18 pengamatan yang mempunyai nilai lebih dari 3.
2.1.6
Penyajian Grafik
Distribusi frekuensi dapat juga
disajikan dalam bentuk grafik. Penyajian grafik yang sangat luas digunakan bagi
data numerik adalah diagram balok seperti gambar dibawah ini.
Diagram Balok umur Aki
Penyajian data lainnya adalah berbentuk
Histogram. Histogram berbeda dengan Diagram Balok dala hal sebagai lebar
baloknya digunakan batas kelas bukan limit kelas. Untuk beberapa masalah
tertentu akan lebih baik bila sumbu
tegaknya menyatakan frekuensi relatif atau persentase.Grafiknya disebut
Histogram Frekuensi Relatif atau Histogram Persentase, bentuknya persis dengan
histogram frekuensi, hanya skala tegaknya berbeda.
Histogram
Frekuensi
Biasanya ada kecenderungan bahwa yang menjadi
patokan adalah luas dari persegi panjang tersebut bukan tingginya. Tetapi untuk
lebar kelas yang berbeda, tinggi persegi panjang itu harus dibagi dengan
perbandingan lebar yang lebih besar dengan gaya yang lebih kecil. Hal ini dapat
dilihat dalam gambar dibawah ini, karena lebar kelas yang dipakai ada dua lebar
kelas, maka lebar kelas dari 2.5-3.4, lebar kelasnya harus kita bagi dengan
lebar kelas lainnya, yaitu didapat ternyata lebar selang 2.5-3.4 dua kali lebih
panjang dari lebar kelas lainnya. Sehingga tinggi dari kelas 2.5-3.4, harus
dibagi
Histogram Frekuensi
yang tidak benar dengan lebar kelas yang tidak sama
Histogram Frekuensi
yang benar dengan lebar kelas yang tidak sama
Cara
lainnya lagi adalah dalam bentuk poligon frekuensi. Poligon frekuensi dibentuk
dengan memplotkan frekuensi kelas terhadap titik tengah kelas dan kemudian
menghubungkan titik-titik yang berurutan dengan garis lurus. Dengan kata lain
poligon merupakan bangun bersisi banyak yang tertutup. Jika frekuensi yang ada
dalam bentuk frekuensi relatif, maka disebut poligon frekuensi relatif atau
poligon persentase.
Poligon Frekuensi
Ogif atau Poligon
Frekuensi Kumulatif
Grafik garis lainnya disebut
Poligon Frekuensi Kumulatif atau Ogif, didapat dengan memplotkan frekuensi
kumulatif yang lebih kecil daripada batas atas kelas terhadap batas atas
kelasnya.
2.1.7
Kegunaan Statistik
Statistik berfungsi hanya sebagai
alat bantu! Peranan statistik dalam penelitian tetap diletakkan sebagai alat.
Artinya, statistik bukan menjadi tujuan yang menentukan komponen penelitian lain.
Oleh sebab itu, yang berperan menentukan tetap masalah yang dicari jawabannya
dan tujuan penelitian itu sendiri.
Statistik dapat berguna dalam
penyusunan model, perumusan hipotesis, pengembangan alat pengambil data,
penyusunan rancangan penelitian, penentuan sampel, dan analisis data, yang
kemudian data tersebut diinterpretasikan sehingga bermakna. Hampir semua
penelitian ilmiah dilakukan terhadap sampel kejadian, dan atas dasar sampel itu
ditarik suatu generalization. Suatu generalisasi pasti mengalami error,
disinilah salah satu tugas statistikbekerja atas dasar sampel bukan populasi.
Dengan demikian pengujian hipotesis dapat kita lakukan dengan teknik-teknik
statistik.
Dari hasil analisis statistik yang
diperoleh berdasarkan perhitungan yang angka-angka tersebut, sebenarnya belum
mempunyai arti apa-apa tanpa dideskripsikan dalam bentuk kalimat atau kata-kata
di dalam penarikan kesimpulan. Jika tidak, maka hasil analisis tersebut tidak
akan bermakna dan hanya tinggal angka-angka yang tidak "berbunyi".
2.2 Probabilitas
2.2.1
Pengertian Probabilitas
Dalam
kehidupan sehari-hari kita sering dihadapkan dengan beberapa pilihan yang harus
kita tentukan memilih yang mana. Biasanya kita dihadapkan dengan
kemungkinan-kemungkinan suatu kejadian yang mungkin terjadi dan kita harus
pintar-pintar mengambil sikap jika menemukan keadaan seperti ini, misalkan saja
pada saat kita ingin bepergian, kita melihat langit terlihat mendung. Dalam
keadaaan ini kita dihadapkan antara 2 permasalahan, yaitu kemungkinan
terjadinya hujan serta kemungkinan langit hanya mendung saja dan tidak akan
turunnya hujan. Statistic yang membantu permasalahan dalam hal ini adalah
probabilitas.
Probabilitas
didifinisikan sebagai peluang atau kemungkinan suatu kejadian, suatu ukuran
tentang kemungkinan atau derajat ketidakpastian suatu peristiwa (event) yang
akan terjadi di masa mendatang. Rentangan probabilitas antara 0 sampai dengan
1. Jika kita mengatakan probabilitas sebuah peristiwa adalah 0, maka peristiwa
tersebut tidak mungkin terjadi. Dan jika kita mengatakan bahwa probabilitas
sebuah peristiwa adalah 1 maka peristiwa tersebut pasti terjadi. Serta jumlah
antara peluang suatu kejadian yang mungkin terjadi dan peluang suatu kejadian
yang mungkin tidak terjadi adalah satu, jika kejadian tersebut hanya memiliki 2
kemungkinan kejadian yang mungkin akan terjadi.
Contoh ; Ketika doni
ingin pergi kerumah temannya, dia melihat langit dalam keadaan mendung, awan
berubah warna menjadi gelap, angin lebih kencang dari biasanya seta sinar
matahari tidak seterang biasanya.
Bagaimanakah tindakan
Doni sebaiknya?
Ketika
Doni melihat keadaan seperti itu, maka sejenak dia berpikir untuk membatalkan
niatnya pergi kerumah temannya. Ini dikarenakan dia beripotesis bahwa sebentar
lagi akan turunya hujan dan kecil kemungkinan bahwa hari ini akan tidak hujan,
mengingat gejala-gejala alam yang mulai nampak.
Probabilitas
dalam cerita tadi adalah peluang kemungkinan turunnya hujan dan peluang tidak
turunnya hujan.
2.2.2 Manfaat Probabilitas Dalam Penelitian
Manfaat probabilitas dalam
kehidupan sehari-hari adalah membantu kita dalam mengambil suatu keputusan,
serta meramalkan kejadian yang mungkin terjadi. Jika kita tinjau pada saat kita
melakukan penelitian, probabilitas memiliki beberapa fungsi antara lain;
· Membantu peneliti dalam pengambilan
keputusan yang lebih tepat. Pengambilan keputusan yang lebih tepat dimagsudkan
tidak ada keputusan yang sudah pasti karena kehidupan mendatang tidak ada yang
pasti kita ketahui dari sekarang, karena informasi yang didapat tidaklah
sempurna.
· Dengan teori probabilitas kita dapat
menarik kesimpulan secara tepat atas hipotesis yang terkait tentang
karakteristik populasi.
Menarik kesimpulan
secara tepat atas hipotesis (perkiraan sementara yang belum teruji
kebenarannya) yang terkait tentang karakteristik populasi pada situssi ini kita
hanya mengambil atau menarik kesimpulan dari hipotesis bukan berarti kejadian
yang akan dating kita sudah ketehaui apa yang akan tertjadi.
·
Mengukur derajat ketidakpastian dari analisis
sampel hasil penelitian dari suatu
populasi.
Contoh:
Ketika diadakannya
sensus penduduk 2000, pemerintah mendapatkan data perbandingan antara jumlah
penduduk berjenis kelamin laki-laki berbanding jumlah penduduk berjenis kelamin
perempuan adalah memiliki perbandingan 5:6, sedangkan hasil sensus pada tahun
2010 menunjukan hasil perbandingan jumlah penduduk berjenis kelamin pria
berbanding jumlah penduduk berjenis kelamin wanita adalah 5:7. Maka pemerintah
dapat mengambil keputusan bahwa setiap tahunnya dari tahun 2000 hingga 2010
jumlah wanita berkembang lebih pesat daripada jumlah penduduk pria.
2.2.3 Menghitung Probabilitas atau Peluang Suatu
Kejandian
Jika
tadi kita hanya memperhatikan peluang suatu kejadian secara kualitatip, hanya
memperhatikan apakkah kejadian tersebut memiliki peluang besar akan terjadi
atau tidak. Disini kita akan membahas nilai dari probabilitas suatu kejadian
secara kuantitatip. Kita bias melihat apakah suatu kejadian berpotensi terjadi
ataukah tidak.
Misalkan
kita memiliki sebuah dadu yang memiliki muka gambar dan angka,jika koin
tersebut kita lemparkan keatas secara sembarang, maka kita memiliki 2 pilihan
yang sama besar dan kuat yaitu peluang munculnya angka dan peluang munculnya
gambar. Jika kita perhatikan secara seksaama, pada satu koin hanya terddiri
dari satu muka gambar dan satu muka angka, maka peluang munculnya angka dan
gambar adalah sama kuat yaitu ½. 1 menyatakan hanya satu dari muka pada koin
yang mungkin muncul, entah itu gambar maupun angka sedangkan 2 menyatakan
banyaknya kejadian yang mungkin terjadi pada pelemparan koin, yaitu munculnya
gambar + munculnya angka.
Jika
kita berbicara tidak lagi 2 kejadian yaitu menyangkut banyak kejadian yang
mungkin terjadi,mengingat dan dari hasil pengumpulan dan penelitian data
diperoleh suatu rumus sebagai berikut. Jika terdapat N peristiwa, dan nA dari N peristiwa tersebut membentuk kejadian
A, maka probabilitas A adalah :
Dimana : nA= banyaknya
kejadian
N= kejadian seluruhnya/peristiwa
yang mungkin terjadi
Contoh.
Suatu mata uang logam
yang masing-masing sisinya berisi gambar dan angka dilemparkan secara bebas
sebanyak 1 kali.
Berapakah probabilitas
munculnya gambar atau angka?
Jawab :
n=1, N=2
p(gambar atau angka)=
p(gambar atau angka)=1/2 atau 50%
Dapat disimpulkan peluang munculnya
gambar atau angka adalah sama besar.
Contoh 2.
Berapa peluang munculnya dadu mata satu pada
satu kali pelemparan?
Jika kita tinjau pada
sebuah dadu hanya memiliki 1 buah mata dadu bermata 1, sedangkan pada dadu
terdapat 6 mata yaitu mata 1 sampai mata 6.
Maka
P(A) = nA/N
= 1/6
Berikut merupakan
aturan dalam probabilitas
·
Jika n = 0 makka peluang terjadinya suatu kejadian pada keadaan ini
adalah sebesar P(A) = 0 atau tidak mungkin terjadi.
·
Jika n merupakan semua anggota N maka probabilitasnya adalah satu, atau
kejadian tersebut pasti akan terjadi
·
Probabilitas suatu
kejadian memiliki rentangan nilai.Jika E menyatakan bukan peristiwa E maka
berlaku
2.2.4 Hubungan Antar Kejadian
2.2.4.1 Exclusive Event
Exclusive event merupakan 2
kejadian atau lebih jika terjadinya
kejadian yang satu mencegah terjadinya kejadian lain.
Exclusive event biasanya
dihubungkan dengan kata atau.Jika dalam suatu peristiwa terdiri dari k buah kejadian maka dapat dirumuskan sebagai
berikut.P(E1 atau E2 atau.... Ek)= P(E1)+P(E2)+…P(Ek)
Contoh.
Sebuah kotak berisi
A. 10
kelereng merah,
B.
20 hijau,
C. 30
kuning.
Isi kotak diaduk dan
diambil 1 buah kelereng secara acak. Berapa probabilitas terambilnya
hijau atau kuning?
JAWAB :
P(A) =
P(B) =
P(C)=
Maka peluang
terambilnya kelereng hijau atau kuning adalah P(B)+P(C) = 0,33 + 0,50 = 0,83
2.2.4.2 Dependent Event
Dependent event adalah terjadinya suatu
peristiwa merupakan syarat dari peristiwa yang lainnya.Jika kejadian yang satu
menjadi syarat terjadinya kejadian yang lain ditulis A|B, Kita tulis A |B untuk
menyatakan peristiwa A terjadi dengan didahului terjadinya peristiwa B.
peluangnya ditulis dengan p(A |B) dan disebut dependent probability
(probabilitas bersyarat). Untuk dependent events dihubungkan dengan kata dan,
sehingga berlaku hubungan:
P(A
dan B)=p(B).p (A |B)
Peluangnya ditulis
dengan P (A│B) dan disebut dependent probability Dependent event biasanya
dihubungkan dengan kata “dan”.
Contoh.
Sebuah kotak berisi
A.
10 kelereng merah,
B.
20 hijau,
C.
30 kuning.
Isi kotak diaduk dan
diambil 1 buah kelereng secara acak jika pengambilan pertama sebuah kelereng
berwarna hijau (tanpa pengembalian). Berapakah probabilitas terambilnya sebuah kelereng
berwarna merah pada pengambilan kedua?
Jawab:
Merupakan
peluang kelereng warna hijau pada pengambilan pertama dan kelelereng warna
merah pada pengambilan kedua.
2.2.4.3
Independent Event
Dua kejadian atau lebih dinamakan
Independent Events, jika kejadian yang satu tidak mempengaruhi kejadian yang
lain.
Misalnya dua kejadian A dan B. Jika
terjadinya atau tidak terjadinya kejadian A tidak mempengaruhi terjadinya
kejadian B, maka A dan B disebut Independent Events. Untuk Independent Events
dihubungkan dengan kata dan, sehingga berlaku hubungan:
P(A dan B ) = p(A).p(B)
Untuk berlaku k buah peristiwa
berlaku:
p(E1 dan E2 dan…..dan
Ek )
= p(E1 ).p(E2 )….p(Ek )
contoh.
Dua buah dadu dilemparkan secara
bebas satu kali. Berapakah probabilitas munculnya mata 2 dan 6 dari pelemparan
tersebut?
2.2.4.4 Inclusive Event
Dua kejadian atau lebih dinamakan
saling Inclusive events jika terjadinya kejadian yang satu tidak mencegah
terjadinya kejadian yang lain.
Inclusive events
biasanya dihubungkan dengan kata atau.
Misalnya kejadian A dan B merupakan
kejadian Inclusif, berlaku hubungan atau A atau B atau kedua-keduanya terjadi.
Untuk peristiwa tersebut berlaku:
P(A+B) = P(A) + P(B) -
P(A+B)
Contoh.
Jika probabilitas kelahiran wanita dan pria
adalah sama, dan probabilitas kelahiran anak berkulit putih, kulit hitam, dan
sawo matang masing-masing adalah 0,2 , 0,5 , dan 0,3. Berapakah besarnya
probabilitas kelahiran anak wanita yang berkulit putih?
Jawab.
Probabilitas kelahiran
pria dan wanita adalah sama, sehingga p(pa atau w)= 0,50.
Probabilitas
wanita-kulit putih=(0,50)(0,2)=0,1 P(W+P)= 0,50+0,2-0,1=0,6
2.2.5 Hubungan Probabilitas Teoritik dan
Probabilitas Empirik
Hubungan probabilitas teoritik
dengan probabilitas empirik dapat dijelaskan melalui contoh dari pelemparan
sebuah mata uang logam yang masih baik :
A = angka
G = gambar
2.2.5.1
Probabilitas teoritik
Kemungkinan/ probabilitas yang
diperoleh dengan menggunakan cara-cara yang berlainan serta asumsi bahwa semua
cara yang mungkin akan terjadi atas dasar kemungkinan yang sama (equally likely
basis).
Penggunaannya Suatu
koin (uang logam)
DILEMPAR 1 KALI:
P(A)=0,50(50%)
P(G)= 0,50(50%)
DIILEMPAR 10 KALI:
P(A)= 0,50X10 kali=5
kali
P(G)= 0,50X10 kali=5
kali
Contoh.
Dalam permainan ini
standar kartu 52 dek kartu remi yang digunakan.Dalam rangka untuk menang Anda
harus memilih "kartu wajah."Berapa probabilitas bahwa Anda akan
memenangkan permainan ini?
JAWAB:
Secara teori:
·
Setiap kartu di dek memiliki kesempatan yang sama untuk terambil.
·
Ada 12 wajah kartu (kartu menang) di geladak. Oleh karena itu
probabilitas menang pada permainan berikutnya adalah:
2.2.5.2
Probabilitas Empirik.
Kemungkinan tentang terjadinya
suatu peristiwa yang dihitung atas dasar pengalaman-pengalaman atau percobaan-percobaan
tentang apa yang terjadi pada saat-saat yang sama di masa yang lalu atau atas
dasar catatan statistik.
Karena dalam menentukan
probabilitas empiris Anda benar-benar melakukan percobaan, kadang-kadang
probabilitas empirik disebut:
"eksperimental
probabilitas."
Pada kenyataannya sangat jarang
terjadi demikian, karena ada kemungkinan muncul
jumlah angka atau gambar yang bervariasi dalam 10 kali
pelemparan.Kemungkinannya tidak hanya berkisar antara 5G dan 5A, namun bisa
saja kemungkinanmunculnya angka dan gambar adalah 3G dan 7A, 4G dan 6A, dan lainnya.
Sebagai contoh, suatu produsen
radio, produksi 1000 buah radionya diuji secara acak. Setelah pengujian, mereka
menemukan 15 dari 1000 radio tersebut cacat.
Kita dapat dengan mudah
menentukan bahwa probabilitas empiris bahwa radio rusak akan menjadi
Sebagai desimal akan menjadi 0,15
dan sebagai suatu persen itu akan menjadi
= 1,5%.Sekarang produsen dapat
menggunakan hasil ini untuk memprediksi bahwa dalam produksi 7.500 radio, 1,5%
dari mereka mungkin akan rusak.Jadi mereka memprediksi bahwa (0,15) (7500) =
112,5 radio rusak.2.2.6 Menghitung Nilai Harap (ekspektasi) dari suatu
kejadian.
Contoh:
Ani dan Ina bertaruh dalam
pelemparan muka dadu. Jika dalam pelemparan tersebut nampak angka ganjil, maka
Ani kalah dan harus membayar kepada Ina Rp 1.000,-. Dan jika nampak angka
genap, maka Ina kalah dan harus membayar kepda ani Rp 1.000,-. Peluang
munculnya angka genap dan angka ganjil pada dadu masing-masing adalah 1/2. Jadi
peluang Ani untuk membayar uang kepda Ina adalah ½, dan peluangnya untuk menang
juga ½, sehingga ekspektasi taruhan itu adalahξ (untuk Ani) = ½(Rp100) +
½(-Rp100) = Rp 0.
Untuk Ina juga berlaku hal yang
sama. Berarti dalam jangka waktu yang cukup lama, dalam permainan ini Ani dan
Ina masing-masing menang nol rupiah.
2.2.7
Dua Kejadian saling Lepas
Bila A dan B dua kejadian sembarang
pada S dan berlaku A ∩ B = ϕ , maka A dan B dikatakan saling lepas atau saling
bertentangan atau saling terpisah (mutually exclusive).
P ( A U B) = P(A)+P(B)
Bila A dan B dua kejadian saling
lepas, maka P( A ∩ B) = P(ϕ)=0 , sehingga probabilitas kejadian A U B
dirumuskan Sebagai berikut.
Contoh.
Bila A dan B dua
Kejadian saling Lepas, dengan P(A) = 0,3 dan P(B) = 0,25 , tentukanlah
P ( A U B) !
Jawab :
Karena A dan B saling
lepas, maka berlaku P ( A U B) = P(A) + P(B) = 0,3 +0,25 = 0,55
2.2.8
Dua Kejadian Saling Komplementer
Dalam teori himpunan disebutkan bahwa
bila himpunan A ϵ S , maka komplemen A yang ditulis atau
adalah himpunan yang anggotanya S tetapi bukan anggota A atau P ( ) = 1-
P(A) ={xϵS│x≠ϵA)
Kejadian adalah
kumpulan titik sampel titik sampel yang merupakan titik sampel S.Rumus
2.2.9
Dua Kejadian saling bebas P ( A∩B) = P(A).P(B)
Dua kejadian A dan B dalam ruang
sampel S dikatakan saling bebas jika kejadian A tidak mempengaruhi kejadian B
dan sebaliknya kejadian B tidak mempengaruhi kejadian A. jika A dan B merupakan
dua kejadian saling bebas, maka berlaku lah rumus berikut.
Rumus
Contoh :
Jika diketahui dua
kejadian A dan B saling bebas dengan P(A) = 0,3 dan P(B) = 0,4 maka berlaku :
P ( A∩B) = P(A).P(B) =
(0,3)(0,4) = 0,12
2.2.10 Permutasi dan Combinasi
2.2.10.1 Permutasi
Permutasi adalah pengaturan
elemen-elemen dari sebuah himpunan dimana urutan dari elemen elemen tersebut
diperhatikan.
Secara matematik, dari
sebuah himpunan yang mempunyai elemen sebanyak n, banyaknya permutasi dengan
ukuran (permutasi dengan jumlah elemen) r ditulis sebagai P(n,r) atau nPr
ataunPr.
Rumusnya adalah P(n,r) = nPr = nPr = n n! n-r !
dimana n! (n faktorial) = n × (n-1) × (n-2) ×
... × 1 dan 0! = 1.
Contoh, dari himpunan
huruf-huruf {a,b,c}, permutasi-permutasi dengan ukuran 2 (ambil 2 elemen dari himpunan tersebut) adalah
{a,b}, {b,a}, {a,c}, {c,a}, {b,c}, dan {c,b}. Perhatikan bahwa urutan dari
elemen-elemen itu adalah penting, dengan kata lain {a,b} adalah berbeda
dengan{b,a}.Banyaknya permutasi adalah 6.
Contoh lainnya:
Berapa banyaknya cara
untuk mengatur 5 buku yang berbeda di atas rak buku?
Jawaban: Di sini, n = 5
dan r = 5.
Jadi, 5P5 = 5!/(5-5)! =
5!/0! = (5 × 4 × 3 × 2 × 1)/1 = 120.
Seperti terlihat dari
contoh di atas, jika n = r, rumus untuk nPr = n!.
2.2.10.1.1 Permutasi Melingkar/Keliling
Permutasi melingkar adalah suatu
permutasi yang dibuat dengan menyusun anggota-anggota suatu himpunan secara
melingkar. Dua permutasi melingkar dianggap sama bila didapatkan dua himpunan
permutasi yang sama dengan cara beranjak dari suatu anggota tertentu dan
bergerak searah jarum jam. Banyaknya permutasi yang disusun secara melingkar
adalah (n-1) !
Contoh.
Dalam tahun ajaran baru setiap
kelas dianjurkan untuk membentuk susunan pengurus kelas yang baru. Jika hanya
dipilih 1 ketua kelas, 1 wakil ketua kelas , 1 bendahara dan 1 sekertaris dari
8 orang calon, tentukan kemungkinan yang akan terjadi.
Jawab.
Maka aka nada 1680 kemungkinan atau
cara membentuk susunan pengurus kelas yang baru dari 8 orang calon.
2.2.10.2 Combinasi
Kombinasi didefinisikan sebagai
susunan-susunan yang dibentuk dari anggota-anggota suatu himpunan dengan
mengambil seluruh atau sebagian dari anggota himpunan itu tanpa memberi arti
pada urutan anggota dari masing-masing susunan tersebut disebut kombinasi yang
ditulis dengan lambang C.
Bila
himpunan itu terdiri atas n anggota dan diambil sebanyak r, tentu saja r lebih
kecil atau sama dengan n, maka banyaknya susunan yang dapat dibuat dengan cara
kombinasi adalah :
Kombinasi ditulis juga
dengan cara : C(n,r) atau Cn,r
Susunan pada combinasi tidaklah
memperhatikan urutan seperti pada permutasi, oleh daripada itu combinasi n
objek yang diambil dari n adalah sebagai berikut,
Contoh.
Berapa banyaknya kemungkinan
pasangan antara calon presiden dan wakil presiden jika ada 8 buah calon.
Jawab.
Karena ditanya pasangan, maka akan
dibentuk tim yang terdiri dari 2 orang dari 8 calon, maka dapat dicari dengan
cara.
Maka hanya ada 28
kemungkinan pasangan yang akan terjadi.
2.2.11
Bagian-Bagian Peluang berdasarkan Definisi
2.2.11.1
Pendekatan Klasik
Peluang klasik dari sebuah
peristiwa adalah rasio antara jumlah peristiwa yang bisa terjadi dengan jumlah
semua hasil yang bisa terjadi, dimana hasil ini dapat diturunkan dari sebuah
eksperimen.
Jika ada a kemungkinan yang dapat
terjadi pada kejadian A dan ada b kemungkinan yang dapat terjadi pada kejadian
A, serta masing-masing kejadian mempunyai kesempatan yang sama dan saling
asing, maka probabilitas/peluang bahwa akan terjadi a adalah:
P (A) = a/a+b ; dan
peluang bahwa akan terjadi b adalah: P (A) = b/a+b
RUMUS :
P(peristiwa) = x=Jumlah
cara terjadinya suatu peristiwa2Jumlah cara terjadinya semua hasil
Contoh:
Pelamar pekerjaan
terdiri dari 10 orang pria (A) dan 15 orang wanita (B). Jika yang diterima
hanya 1, berapa peluang bahwa ia merupakan wanita?
Jawab: P (A) = 15/10+15
= 3/5
2.2.11.2 Pendekatan subyektif
Peluang subjektif adalah sebuah
bilangan antara 0 dan 1 yang digunakan seseorang untuk menyatakan perasaan
ketidakpastian tentang terjadinya peristiwa tertentu. Peluang 0 berarti
seseorang merasa bahwa peristiwa tersebut tidak mungkin terjadi, sedangkan
peluang 1 berarti bahwa seseorang yakin bahwa peristiwa tersebut pasti
terjadi.Definisi ini jelas merupakan pandangan subjektif atau pribadi tentang
peluang.
Meski
peluang subjektif tidak didasarkan pada suatu eksperimen ilmiah, namun
penggunaannya tetap bisa dipertanggungjawabkan. Dalam menentukan nilai peluang
ini, seorang pengambil keputusan tetap menggunakan prinsip-prinsip logis yang
didasarkan pada pengalaman yang diperolehnya. Seorang pengambil keputusan sudah
mengetahui secara nyata apa faktor-faktor yang mempengaruhi keputusannya
sehingga dia bisa memprediksi apa kira-kira yang bakal terjadi dari keputusan
yang diambilnya. Yang masih menjadi pertanyaan adalah apakah peluang subjektif
dapat digunakan untuk keperluan analisis statistika selanjutnya. Kelompok
statistika objektif atau klasik menolak penggunaan peluang subjektif ini,
sebaliknya kelompok Bayes menerimanya. Bukan tujuan kita untuk membahas
perdebatan ini, kecuali bahwa penggunaan peluang subjektif tampak sesuai dalam
pengambilan keputusan bisnis. Berbeda halnya dengan penelitian kimia,
pertanian, farmasi, kedokteran atau ilmu
eksakta lainnya yang memang harus menggunakan peluang objektif sebagai dasar
analisisnya. Sampai saat ini pengambilan keputusan berdasarkan peluang
subjektif masih dibilang sebagai salah satu tehnik manajerial yang terbaik.
Contoh “Berapa peluang
penjualan barang X bulan depan akan melebihi 50.000 unit jika dilakukan
perubahan kemasan?”. Sudah barang tentu
eksperimen tentang pengaruh perubahan kemasan terhadap volume penjualan dengan
pengulangan yang sangat besar jarang dilakukan bahkan tidak pernah dilakukan.
Meski menggunakan data penjualan bulanan bukan sesuatu yang musthail, akan
tetapi tidaklah efisien jika perusahaan selalu merubah kemasan setiap bulannya
hanya untuk meningkatkan volume penjualan. Olehkarena itu, biasanya seorang
manajer menggunakan intuisi atau perasaannya dalam menentukan nilai peluang
ini. Jadi tidaklah heran jika seorang manajer menyatakan “peluang terjualnya
barang X melebihi 50.000 unit pada bulan depan adalah 0,40”.
2.2.11.3
Pendekatan Frekuensi Relatife
Nilai probabilitas/peluang
ditentukan atas dasar proporsi dari kemungkinan yang dapat terjadi dalam suatu
observasi/percobaan (pengumpulan data).Jika sebuah eksperimen dilakukan
sebanyak N kali dan sebuah peritiwa A terjadi sebanyak n(A) kali dari N
pengulangan ini, maka peluang terjadinya peristiwa A dinyatakan sebagai proporsi
terjadinya peristiwa A ini.
Contoh:
Dari hasil penelitian
diketahui bahwa 5 orang karyawan akan terserang flu pada musim dingin. Apabila
lokakarya diadakan di Puncak, berapa probabilitas terjadi 1 orang sakit flu
dari 400 orang karyawan yang ikut serta?
Jawab:
P (A) = 5/400 = P (A) =
1/80
Probabilitas disajikan dengan
symbol P, sehingga P(A) menyatakan probabilitas bahwa kejadian A akan terjadi
dalam observasi atau percobaan tunggal, dengan 0 ≤ P(A) ≤ 1.
Dalam suatu
observasi/percobaan kemungkinan kejadian ada 2, yaitu “terjadi (P(A)) atau
“tidak terjadi” (P(A)’), maka jumlah probabilitas totalnya adalah P(A) + P(A)’
= 1
2.2.12
JENIS KEJADIAN
2.2.12.1 Berdasarkan peluang terjadinya.
a. Kejadian Saling
Meniadakan (Mutually Exclusive)
yaitu kejadian yang tidak dapat terjadi
secara bersama-sama dengan kejadian lainnya.
Contoh: Hasil Ujian: Lulus vs Tidak
lulus
Keadaan : Dingin vs Panas
Cuaca : Hujan vs Tidak Hujan
b. Kejadian Tidak
Saling Meniadakan (Non-Mutually Exclusive), yaitu kejadian
Contoh: Keadaan vs Cuaca : Dingin
vs Tidak hujan
Dingin vs Hujan
Panas vsTidak hujan
Panas vs Hujan
2.2.12.2 Berdasarkan pengaruh/hubungannya
a. Kejadian Independen
yaitu apabila terjadi atau
tidaknya suatu kejadian tidak berpengaruh pada probabilitas/peluang kejadian
yang lain.
b. Kejadian Dependen
yaitu apabila terjadi atau tidaknya
suatu kejadian berpengaruh pada probabilitas/peluang kejadian yang lain.yang
dapat terjadi secara bersama-sama dengan kejadian lainnya.
2.2.13 PERHITUNGAN NILAI PELUANG
2.2.13.1 Hukum Penjumlahan
Digunakan
apabila kita ingin menghitung probabilitas suatu kejadian tertentu atau yang
lain (atau keduanya) yang terjadi dalam suatu percobaan/kejadian tunggal.
Rumus Penjumlahan untuk
kejadian-kejadian yang saling meniadakan;
P(A atau B) = P (AB) =
P(A) + P(B)
Rumus Penjumlahan untuk
kejadian-kejadian yang tidak saling meniadakan:
1. Dua Kejadian P(A
atau B) = P(A) + P(B) – P(A dan B) atau P(AB) = P(A) + P(B) – P(AB).
2. Tiga Kejadian P(A
atau B atau C) = P(A) + P(B) + P(C) – P(A dan B) – P(A dan C) – P(Bdan C) + P(A
dan B dan C) atau P(AÈBÈC) = P(A) + P(B) + P(C) – P(AÇB) – P(AÇC) – P(BÇC) +
P(AÇBÇC)
2.2.13.2 Hukum Perkalian
Hukum perkalian untuk 2
kejadian Independen: P(A dan B) = P(A) x P(B)
Hukum perkalian untuk 3
kejadian Independen:P(AÇB) = P(A) x P(B) x P(C)
Hukum perkalian untuk
kejadian dependen: P(A dan B) = P(A) x P(B)
atau
P(A dan B) = P(A x
P(BA) atau P(B dan A) = P(B) x P(AB)
Contoh:
Berdasarkan pengalaman, sebuah
produk susu kaleng yang lulus uji dalam hal berat bersih akan diberi nilai
0.95. Lembaga konsumen membuktikan pernyataan tersebut dengan cara mengukur 3
kaleng dengan sebuah alat ukur tertentu. Dengan asumsi bahwa jika kaleng 1
lulus uji, maka kaleng 2 dan 3 belum tentu lulus, maka tentukan:
a. Berapa probabilitas
bahwa ketiga kaleng tsb lulus uji?
b. Berapa probabilitas
bahwa hanya dua kaleng yang lulus uji?
c. Berapa probabilitas bahwa
tidak ada yang lulus uji?
Jawab:
a. P(3 lulus uji) =
P(k1 dan k2 dan k3)= 0.95 x 0.95 x 0.95 = 0.86
b. P(2 lulus uji) =
P(K1 dan K2 dan K3’)+P(K1 dan K2’ dan K3)+P(K1 dan K2 dan K3’)
= (0.95 x 0.95 x0.05) +
(0.09 x 0.05 x 0.95 + (0.05 x 0.95 x 0.95)
= 0.14
c. P(tidak ada yang
lulus uji) = P(K1’ dan K2’ dan K3’)= 0.05 x 0.05 x 0.05
= 0.000125
2.2.14 Teorema bayes
Hubungan antara probabilitas
terjadinya suatu peristiwa (A) dengan syarat peristiwa lain telah terjadi, dan
probabilitas terjadinya peristiwa (X) dengan syarat peristiwa A telah terjadi.
P(Ai/Xi)= [P(Ai) P(Xi/ Ai)]/ [∑P(Ai) P(Xi/ Ai)]
Nilai harapan atau nilai ekspektasi
dari sebuah fungsi peubah acak X, g(X) dilambangkan dengan E[g(X)] dapat
didefinisikan sebagai berikut Ekspektasi matematis E(X) = ∑X.P(X)
Contoh :
Dalam sebuah permainan
judi 2 angka (00 s/d 99), jika kita membayar untuk satu lembar kupon sebesar X
kita akan memperoleh hadiah sebesar 60X jika menang (sebetulnya 59X, karena X
lainnya adalah uang kita). Jika peluang munculnya angka sama, maka berapakah
nilai harapan memenangkannya ?
2.2.15 Aturan Probabilitas
Suatu peristiwa E dapat terjadi
sebanyak “h” kali diantara sejumlah “n” peristiwa yang mungkin, dengan
ketentuan h <= n. Dengan demikian nilai probabilitas dari peristiwa paling
kecil adalah 0 (nol) dan paling besar adalah 1 (satu) atau diformulasikan
menjadi: 0 <= P (E) <= 1 ; dimana P (E) merupakan probabilitas suatu
peristiwa.
Jika P(E) = 0, maka
peristiwa E “pasti tidak terjadi”.
Jika P(E) = 1, maka
peristiwa E “pasti terjadi”.
Jika P(E) mendekati 0
(nol) maka peristiwa E kemungkinan terjadinya “kecil”.
Jika P(E) mendekati 1
(satu) maka peristiwa E kemungkinan terjadinya “besar”.
Apabila kemingkinan
terjadinya peristiwa E diberi notasi P(E), maka kemungkinan terjadinya “bukan
E” diberi notasi P(nE), sehingga P(nE) = 1 – P(E). Peritiwa E dan nE merupakan
peristiwa yang “komplementer” satu sama lain.
Contoh :
Jika sebuah dadu dilempar satu kali
maka peristiwa untuk tampak mata 5 adalah sebesar P(E) = 1/6 = 0,167. Sedangkan
untuk tampak selain mata 5 adalah sebesar 5/6 = 0,833 atau 1 – 0,167 = 0,833.
2.2.16 Probabilitas Lebih Dari Satu Peristiwa
Suatu suatu percobaan “tunggal”
dimungkinkan akan terjadi beberapa peristiwa, maka peristiwa yang satu dengan
peristiwa yang lain dipisahkan dengan tanda “atau” (U). Misalnya dalam
percobaan satu kali pelemparan sebuah dadu, maka probabilitas keluar mata 4
atau mata 5 adalah ditulis P (4 U 5). Peristiwa yang terjadi dalam percobaan
tunggal tersebut dapat bersifat Mutually Exclusive atau bersifat Non-Mutually
Exclusive.
Dalam
percobaan yang banyak, maka peristiwa yang muncul akan banyak. Karena percobaan
banyak dan peristiwanya juga banyak, maka antara peristiwa yang satu dengan
yang lain diberi tanda “dan” (∩). Peristiwa yang banyak dalam percobaan yang
banyak dapat bersifat Independent atau bersifat Dependent.
BAB
III
PENUTUP
Demikianlah penulisan makalah ini
yang telah kami buat. Dari hasil pembahasan yang telah penulis bahas pada makalah
ini maka dapat kita ambil kesimpulan dan rekomendasi.
3.1. Kesimpulan
Dispersi data adalah ukuran
penyebaran suatu kelompok data terhadap pusat data.
Memiliki Jenis ukuran :
Dispersi Mutlak :
Jangkauan (range), Simpangan rata-rata (mean deviation), Variansi (variance),
Standar deviasi (standard deviation), Simpangan kuartil (quartile deviation) Dispersi
Relatif : Koefisien variasi (coeficient
of variation).
Pentingnya kita
mempelajari dispersi data didasarkan pada pertimbangan.Pertama, pusat data
seperti rata-rata hitung, median dan modus hanya memberi informasi yang sangat
terbatas, sehingga tanpa disandingkan dengan dispersi data kurang bermanfaat
dalam analisis data.Kedua, dispersi data sangat penting untuk membandingkan
penyebaran dua distribusi atau lebih.
Perlu dicermati bahwa peristiwa
saling bebas tidak sama dengan peristiwa eksklusif. Dalam konsep teori
himpunan, peristiwa saling eksklusif tidak mempunyai ruang sample yang
mengandung titik yang sama (irisan), sedangkan dalam peristiwa saling bebas dua
peristiwa A dan B akan memiliki titik yang sama jika A dan B mempunyai peluang yang tidak nol.
3.2.Saran
Dalam
kehidupan sehari – hari bahwa penggunaan aplikasi microsoft Excel dan juga SPSS
dapat memberikan manfaat yang besar bagi suatu organisasi perusahaan maupun
pendidikan yaitu waktu dapat menjadi lebih efisien ketika melakukan pengolahan
data mentah menjadi data berkelompok yang nantinya menjadi informasi bagi
organisasi tersebut dalam menentukan keputusan yang lebih baik di masa yang
akan datang. Sebaliknya, jika sebuah organisasi perusahaan maupun pendidikan
masih menerapkan penghitungan manual dalam pengolahan data statistik, maka
waktu yang ada menjadi kurang efisien dan pengerjaan dalam mengolah data menjadi
kurang efektif.Dan juga bila dibandingkan hasil dari pengolahan data secara
manual dengan hasil pengolahan data secara otomatis yaitu dengan aplikasi
microsoft excel dan SPSS, akan memperoleh hasil yang berbeda dari keduanya.
Tingkat keakuratan pengolahan data secara otomatis lebih mendekati kebenaran
daripada pengolahan data secara manual.
Perlu dicermati bahwa peristiwa
saling bebas tidak sama dengan peristiwa eksklusif. Dalam konsep teori
himpunan, peristiwa saling eksklusif tidak mempunyai ruang sample yang
mengandung titik yang sama (irisan), sedangkan dalam peristiwa saling bebas dua
peristiwa A dan B akan memiliki titik yang sama jika A dan B mempunyai peluang yang tidak nol.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar